Sunday, December 31, 2017

Apakah saya kurang serius?

Pernah kalian diposisi sedang melakukan sesuatu kemudian sambil berpikir "kenapa saya lakukan semua ini? Harusnya saya bisa melakukan dengan lebih baik." 

Kadang saya merasa kurang serius menanggapi hidup ini, ada puluhan, raturan bahkan ribuan pikiran yang suka melintas di dalam pikiran, saya ingin begini ingin begitu, tapi berapa banyak yang sudah benar-benar terlaksana dan berhasil? Terlaksana mungkin iya, tapi susah sekali untuk melihat hasil yang memuaskan. Mungkin orang sering bilang "Jangan terlalu serius, santai saja." Ya, mungkin wajah saya terlihat selalu serius, kurang pintar bercanda, tapi bukan "serius" macam itu yang sedang saya maksud, tapi serius dalam menwujudkan apa yang saya inginkan.

Resolusi tahun sebelumnya, resolusi tahun ini semua jadi buih belaka, seberapa persen yang tercapai? Tentu tidak perlu saya sebut satu per satu resolusi yang telah saya buat sebelumnya, ini hanya akan mengingatkan betapa tidak konsistennya diri saya terhadap hidup saya sendiri. 

Pada saat umur masih 20-25 tahun, kita merasa bisa melakukan apa saja, multitasking tidak pernah terlalu menggangu, masih ingat saat itu saya ada 2-3 pekerjaan secara bersamaan, penghasilan yang lumayan cukup untuk ukuran saat itu, jika lelah tinggal tidur, bangun-bangun sudah siap untuk segala tantangan, masa depan rasanya masih sangat jauh sekali, tidak perlu saya pusingkan, tak pernah pusing dengan resolusi.

Pada umur 26-30 tahun, saya sudah cukup nyaman dengan apa yang saya kerjakan, penghasilan cukup untuk saya sendiri, untuk orang tua, bahkan cukup untuk material sekunder, tapi seperti pepatah bilang, hidup kamu akan benar benar hidup saat kamu keluar dari zona nyaman. Sejak itu saya memberikan diri mencoba hal-hal baru, keluar dari pekerjaan yang sudah nyaman dijalanin selama 9 tahun, jatuh cinta sejatuh jatuhnya dengan orang yang salah, lakukan hal-hal liar.

Apakah saya menyesal? Mungkin ada beberapa hal iya, tapi saya berusaha ambil hikmahnya saja, orang tua saya pernah bilang "Jika orang ambil keuntungan dari kita, membodohi kita, ikhlaskan jika sudah terjadi, mungkin kita hutang karma kepadanya, tapi jika sudah sadar akan terjadi dan biarkan terjadi, maka itu artinya kamu bodoh."

Hingga di umur 30 tahun ke atas, walau saya bisa banggakan apa yang sudah saya capai sebelumnya, tapi saya juga merasa dulu saya tidak cukup serius menjalaninya.

Well, saya tidak akan bilang "new year, new me" itu hanya kebohongan yang terlalu typical, akui saja, berapa banyak kebiasaan yang bisa diubah dalam sekejap? dan kenapa harus tunggu sampai pergantian tahun? Saya juga tidak akan membuat resolusi apa pun, tapi tiap saat saya sedang menjalanan sesuatu, saya hanya perlu ingatkan diri "apakah saya serius menjalani hidup saya?"

Tuesday, October 10, 2017

Saya sudah rusak

Hari ini saya izin tidak masuk kantor, karena semalaman saya tidak bisa tidur, kepala saya sangat pusing, gejala seperti ini sangat saya takutkan, karena itu berarti ada orang sudah berhasil meluluhkan perasaan saya dan perasaan itu sedang dikecewakan.

Saya tergolong yang sangat mudah banyak pikiran, mungkin karena semua hal selalu ditanggapi dengan serius, terlalu serius malah, tapi jika dipikirkan kembali dulunya saya tidak begini, dulu mungkin sifat saya cenderung cuek, bersikap self defense tinggi, tidak ada yang bisa masuk ke hati saya dengan gampang, tapi semenjak saya pertama kali in relationship, saya mulai merasakan gejalanya, seperti tidak bisa tidur kadang bisa sampai 2 hari 2 malam, gelisah, curigaan, hingga terakhir setelah putus saya jadi mudah marah (tentu ini hanya terhadap orang yang saya peduli saja), saya sering curhat ke teman, bahwa saya tidak bisa kontrol emosiku, saat saya marah tangan saya akan gemetaran, kepala bagian belakang saya akan terasa pusing, gejala-gejala seperti ini hanya teman dekat yang tahu, dan mereka tahu kronologis penyebabnya apa.

Saya sadar bagaimana sebuah hubungan bisa mempengaruhi emosional saya secara menyeluruh, oleh karena itu saya berusaha sedingin mungkin ke orang yang berusaha mendekat, selain sebagai sebuah cobaan untuk mereka, tapi juga merupakan sebuah perisai untuk melindungi saya sendiri, kita harus mengerti mencintai diri kita sendiri sebelum kita memulai mencintai orang lain, itu prinsip yang saya pegang. Mencintai diri sendiri tentu ada banyak cara, seperti jaga kesehatan, pola hidup, lingkungan pergaulan dan bagaimana kita perlakukan orang lain.

Masih teringat dengan jelas di benak saya, bagaimana dulu saya tunduk kepada mantan saya, bahkan saat saya ingin putus, saya hanya bisa menunduk dan menanggis seperti anak kecil, saya begitu lemah, padahal saya diposisi yang dikecewakan, mungkin pengalaman itu memberi pukulan terlalu besar, sejak saat itu saya memilih mengeluarkan semua taring jika saya dikecewakan dari pada hanya diam menunduk, saya rasa mental saya sudah rusak sejak itu.

Kenapa saya bisa tiba-tiba menceritakan ini? Saat pertama kali putus, saya butuh waktu 1 tahun untuk move on, dan saat putus kedua kalinya, saya pikir mungkin butuh waktu setidaknya setahun juga untuk move on, tapi kali ini lebih cepat, saya tidak paham apa karena saya sudah tidak berharap apa-apa lagi ke depannya atau memang karena mental saya sudah rusak? Banyak yang mencoba mendekati, tapi hanya ada 1 yang saya izinkan untuk mendekat, padahal dalam hati saya sering berpikir bahwa dia bukan type saya, dia sangat sederhana, bahkan dia jauh lebih muda, dan ada beberapa history dia membuat saya sempat ragu-ragu, tapi saya mencoba hanya ingin lihat positifnya, saya suka yang sederhana, saya suka rasa saling memperhatikan, saya suka saling memberi pengaruh positif, karena saya merasa positif jika bertemu dengannya, tapi perasaan itu hilang saat dia tidak ada di samping, dia sering menghibur di kala saya sedang down, saya senang dengar suara dia saat telp, saya senang saat dia bersandar di dada saya, tentu semua itu tidak pernah saya sampaikan kepadanya, karena saya tahu dia mudah terbawa perasaan, saya ingin dia kenal saya pelan-pelan, tidak ingin dia ikuti jejak history dia yang sebelumnya, dan sepertinya saya ada rasa takut, bagaimana jika kestabilan emosional yang sudah saya pertahankan akhirnya goyang? Namun ditengah pendekatan, saya kalah oleh bayang-bayang history dia, saya sudah ada pengalaman tidak menyenangkan dulunya, saya takut akan terulang, akhirnya saya memilih mundur, saya memilih sayang diri sendiri.

Saya pikir harusnya semua sudah berakhir, saya bisa netral ke dia, saya ingin menjaga dia dengan cara yang berbeda, saya tidak tahu apakah ke depan masih ada harapan dengan dia atau tidak, tapi setidaknya saya nyaman saat dia bersamaku, ada semacam perasaan ingin menjaganya, arahkan dia ke arah yang lebih baik, tapi saya dapat kabar negatif tentangnya, saya sangat sedih saat mendengarnya, saya marah dan kecewa, awalnya saya mencoba tepis, tapi informasi datang terus menerus, saya merasa sudah dibohongi, emosi saya tidak terbendung dan akhirnya meluap. Saat itulah saya sadar, betapa penting sebenarnya dia bagi saya, hanya orang yang saya cintai yang bisa mempengaruhi emosional saya, cuma saya tidak mau mengakuinya saja, jika dia tidak ada artinya bagi saya, harusnya saya bisa cuek dan anggap keragu-raguan saya terjawab, tapi entah kenapa saya malah meluapkan emosi ke dia, mungkin kerusakan mental saya sudah cukup parah.

Mungkin dia masih mencari pembanding di luar sana, mungkin dia memang telah menemukan yang lebih baik dalam waktu yang relatif singkat, saya tidak ada hak apa-apa terhadap dia lagi. 



Sunday, October 8, 2017

My first memory, my first love



(Please listen to this song while reading this arthicel)

Di saat seperti ini tiba-tiba saya teringat orang yang pernah saya cintai, orang yang pernah mencintai saya balik dengan tulus dan sepenuhnya, kata orang cinta pertama adalah yang paling berkesan, dan saya bersyukur cinta pertama saya dalam hidupku begitu indah, dan tidak hanya satu, tapi ada 2 orang. Walau sudah kejadian 10 tahun lalu, tapi semua masih teringat jelas, bagaiman bertemu, bagaimana kenalan dan bagaimana berakhir, meski tidak sampai tahap jadian, berarti tidak ada istilah putus juga, tapi kenangan yang saya dapatkan sangat berharga, sebuah kenangan yang tak terlupakan.

Mungkin karena 3 tahun terakhir ini, semua relationship gugur, membuat saya terpicu teringat kenangan masa lalu, saya sering merasa ada konflik bathin yang luar biasa dalam diri sendiri, sudah sadar berada di kondisi yang tidak menyenangkan, tapi ujung-ujungnya malah bujuk diri sendiri untuk terus bertahan, demi apa? Saya juga tidak mengerti. Sekarang mungkin saya lebih memilih langsung cut tuntas, mungkin karena saya sudah malas mentoleransi orang lain, atau mungkin karena waktu saya sudah tidak banyak, atau mungkin pandangan saya terhadap cinta sudah berubah?

Cinta yang pertama terjadi saat baru lulus kuliah, mungkin dia orang pertama yang sapa saya "Koko", sejak dari itu jadi ada perasaan tersendiri terhadap sapaan ini, semula hanya berteman biasa, tidak pernah berpikir akan berkembang lebih jauh, saya juga tidak tahu isi hatinya, tanpa sadar pertemanan kita berlangsung sampai 5 tahunan, hingga suatu moment saat bertamu ke rumahnya, kita tidak sengaja berciuman, dari sana saya tahu, ternyata ciuman bisa membuktikan perasaan cinta kita terhadap orang itu atau tidak (setidaknya ini yang berlaku bagiku). Sejak itu saya sadar perasaan saya terhadapnya tidak hanya sekedar teman, tapi kita tidak pernah benar-benar membahasnya, kita selalu anggap itu hanya sebuah kejadian yang tidak sengaja. Saya selalu ingat, bagaimana dia membuat saya merasa spesial dibanding orang lain, dia suka bilang "koko akan terlihat bagus kalo tersenyum." (sambil tusuk pipi saya dengan jarinya dan ditarik ke atas, agar bibirnya terlihat sedang senyum), sesuatu yang tidak mungkin dilakukan ke orang lain. Saya merasa sangat bahagia jika dekat dia, ingin menjaganya, merawatnya, dan setiap rencana di masa depan ada dia di dalamnya, tapi kita tidak berani melangkah lebih jauh dari zona persahabatan.

Di saat itu, karena sudah masuk kerja, jadinya saya sering sering dinas ke China, di sana saya juga bertemu seseorang, awalnya saya juga tidak mengira akan ada hubungan lebih jauh, karena tiap kali kunjungan dinas hanya seminggu, walau cukup rutin hampir tiap bulan, tapi perasaan berkata lain, saya jatuh cinta, dengan kata lain saya mencintai dua orang secara bersamaan. Namun yang di China menolak perasaanku, saya juga berpikir tidak mungkin akan berhasil, karena jarak jauh, walau saya pulang dengan rasa kecewa, tapi setidaknya saya sudah berusaha, tidak ada penyesalan sama sekali.

Apakah saya berselingkuh? Tapi di lain sisi saya tidak ada ikatan hubungan, sempat jadi pikiran cukup lama, akhirnya saya memutuskan akan utarakan isi hati ke yang di Indonesia, dia tidak menolak, tapi dia juga tidak menerima, karena dia juga kebinggungan, dia pikir kita harusnya teman baik, sahabat dekat dan sudah seperti keluarga sendiri, tapi dia juga tidak bisa berbohong dengan perasaan dirinya, kita lebih dari sekedar teman, tapi kita tidak bisa resmi berpacaran, hingga 3 tahun ke depan, akhirnya dia pindah keluar negri, total 8 tahun bersamanya, saya sangat bahagia, bahagia dengan memory yang dia tinggalkan.

Dan tidak menduga dia yang di negri China akan kembali menghubungi saya, dengan dia saya merasa jelas, kita saling membangun sikap yang positif, kita suka kesederhanaan, bersama dia, saya merasa bagaikan harimau yang dipasang sayap, hehe...semoga bisa dimengerti perumpamaannya. Saat itu mungkin dia belum yakin, tapi setelahnya, dia mungkin sadar bahwa saya serius, kenangan tak terlupakan adalah saat saya dinas ke sana, dia luangkan waktu satu hari penuh untuk temani saya jalan-jalan, tanpa melihat HP sama sekali, seluruh waktunya untuk saya, saya sangat menghargai itu, karena saya masih ingat dulu dia tidak begini, dulu dia egois, tapi kemudian berubah total, pepatah bilang tidak ada orang yang bisa mengubah sifat orang lain, kecuali ada seseorang yang membuat orang itu mau berubah dengan sendirinya. Tapi anehnya kita juga tidak pernah resmi jadian, walau persahabatan kami sudah berjalan 9 tahun, hingga beberapa bulan lalu dia baru nyatakan, tapi saya menolak, di usia saya sekarang ini, saya tidak ingin terikat sebuah hubungan yang terpisah jauh puluhan ribu kilometer dan beda negara.

Saya bersyukur sudah bertemu dua orang yang hebat, yang telah memberi kenangan indah terhadap sebuah hubungan, mungkin keberuntungan saya sudah habis setelah itu, kadang saya berpikir apakah saya jadi tidak mudah percaya lagi, atau memang mata saya hanya terbuka saja oleh reality, bahwa segalanya tidak hanya ada sisi baik tapi juga ada sisi buruk.

Kita semua akan menjadi sebuah memory bagi orang lain, berusahalah untuk menjadi memory yang baik.

Thursday, July 6, 2017

Apa yang kamu dapat dari putus cinta?



Keluar dari sebuah hubungan yang gagal, setelah benahi diri, saya pikir seharusnya sudah cukup pintar dalam menilai orang, ternyata cinta memang buta, karena pada saat kita mencintai seseorang, kadang logika kita jadi tidak berjalan semestinya. 3 bulan yang lalu, sebuah hubungan kembali berakhir, mungkin karena masih banyak kekurangan dari diri saya sendiri, sehingga begitu sulit untuk menjalin sebuah hubungan, bagi saya, sebuah hubungan akan berhasil jika kedua belah pihak memang mau berusaha untuk mewujudkan, membuatnya makin berkualitas dan melangkah bersama ke depan. Hubungan bisa awet jika sama-sama meluangkan waktu untuk merawat, ada keharmonisan dan keintiman yang membedakan antara sekedar berteman atau menjadi pasangan hidup.

Bahas patah hati tiada habisnya, toh itu tidak akan mengubah apa-apa, mending kita fokus kembali ke diri kita sendiri, buat diri kita makin baik, baik secara personality maupun secara kebutuhan hidup, buat kita menjadi orang yang makin berkualitas. Keluar dari masa-masa putus cinta mungkin ada yang cepat ada yang lambat, dan saya termasuk kategori yang lambat, bukan karena ingin terlarut dalam rasa sedih, tapi lebih karena tidak mudah melepaskan perasaan yang pernah ada (bukan ingin CLBK). Bagi saya, jika sampai keluar kata putus, berarti kesabaran dan toleransi sudah tidak ada, kekecewaan sudah terlalu besar, namun perasaan tetap ada, memikirkan kenapa bisa gagal dan intropeksi diri. Teman bilang saya tidak pintar menilai orang, selalu memilih orang yang salah untuk dicintai, mungkin ada benarnya, makanya saya ingin lebih berhati-hati dalam memilih, tapi teman juga bilang jangan terlalu lama memilih, karena umur terus bertambah, jadi harus bagaimana?

Saya bukan expert soal move on, malah saya sangat payah dalam hal ini, tapi saya berusaha ambil hikmah dari tiap pengalaman, semoga nantinya bisa jadi bekal dalam menyaring hubungan berikutnya, berikut hikmah yang saya pelajari:
1. Cintai diri sendiri, jangan pernah merusak diri sendiri dengan hal-hal negatif, seperti alkohol, drugs, dll, ini bukan berarti saya pernah melakukan hal-hal negatif tersebut, tapi tujuannya agar kamu bisa melihat perubahan ke arah yang lebih baik pada saat berada di hubungan yang salah, dibanding saat kita sendirian. Kita akan sadar, lepas dari hubungan yang salah, kita akan merasa jadi lebih sehat, lebih bahagia dan tentunya lebih banyak waktu untuk diri kita sendiri.

2. Jalankan hobby, pergi keluar rumah, pergi foto, pergi travelling, pergi nonton, apa pun itu, just do it, kita tidak perlu melapor lagi, tidak perlu minta izin, kita bisa habiskan uang untuk hal-hal yang memberi pengembangan ke dirimu sendiri, dibandingkan habis untuk orang yang tidak pantas. kamu tidak perlu lagi harus tunggu kabar darinya, tidak perlu sesuaikan jadwal dengannya, tidak perlu tunggu-tunggu dia lagi, semua waktu adalah milikmu sendiri, so just do the good thing for yourself.

3. Berteman dengan orang banyak, sekarang kamu bebas pergi ke mana saja dengan siapa saja (tentu bukan suruh rebut pasangan orang lain ya), banyak berteman akan buka wawasan kamu, setidaknya kamu akan lebih pintar mengenal orang nantinya.

4. Set your goal, jika dulu kamu ingin diet, ingin besarkan otot, ingin menabung, ingin beli ini, ingin begini begitu, lakukan! karena semua itu adalah untuk dirimu sendiri, yang nikmati adalah dirimu sendiri juga.

Kadang kita lupa, kita telah luangkan terlalu banyak waktu dan tenaga untuk orang yang tidak pantas, tapi kita juga harus tingkatkan kualitas kita sendiri, "Baik" saja tidak akan cukup untuk pertahankan sebuah hubungan, karena sudah banyak orang diputuskan dengan alasan "Kamu terlalu baik untukku." Kita harus bisa menghargai diri sendiri, membenahi diri sendiri,membuat kita lebih berkualitas, jangan mengantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain.

Masa lalu sudah berlalu, tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, karena sebenarnya pada moment itu, kita juga menginginkannya, hanya saja hasilnya tidak seperti yang kita bayangkan.
Masa depan pasti akan datang, tergantung kita ingin hadapi dengan penyesalan atau mempersiapkan diri dengan mantap untuk menyambutnya.
It's oke jika kadang-kadang kita teringat kembali masa lalu, itu hanyalah bukti bahwa kita punya hati, dan kita pernah mencintai dengan sepenuh hati.