Saturday, June 13, 2015

Nasehat


Saat dinas ke Kalimantan, saya bertemu dengan seorang rekan kerja, secara jabatan dia jauh di atas saya, meski sudah lama kenal, tapi baru kali ini dia ajak berbicara sesuatu yang serius, sesuatu yang bagiku cukup dalam dan bersifat privacy. Dia menceritakan history keluarganya, tentang pengalaman magis yang pernah dia alami dan terakhir dia mengakui dia memiliki bakat lain secara spiritual.

Bagiku, tidak ada orang yang berani mengakui kalau dirinya punya bakat spiritual kecuali karena alasan tertentu, apalagi dia menyampaikan secara langsung ke saya yang tidak begitu akrab dengannya. Setelah berbicara cukup lama dan banyak topik, saya menanyakan kepadanya "Kenapa kamu mau menceritakan semua ini kepada saya?" Dia bilang dia juga tidak mengerti, rasanya dia bisa mendapatkan sesuatu dari saya atau sebaliknya, entah dalam waktu dekat atau lama dan dia merasa saya juga ada bakat.

Kami berbicara cukup lama, dari pagi jam 8an hingga jam 12an, saya sempat menanyakan 1 hal ke dia, saya bertanya "Jika ada orang berbuat salah kepada kita, kesalahan itu sangat besar dan menyakitkan, apa yang harus kita lakukan?"Dia sempat berpikir sejenak, kemudian dia menjawab: "Jangan biarkan energi negatif itu menguasaimu." Dia melanjut menceritakan bagaimana dia dulu merasa kecewa pada perusahaan dan menyalurkan energi negatif itu berharap perusahaan celaka, tapi ujung2nya dia juga yang merasakan dampaknya. Dia menasehati, saat hati dan pikiran sudah penuh dengan energi negatif, maka ceritakanlah kepada Tuhan, ceritakan semuanya dengan hati yang tulus dan jujur, kemudian bilang "Tuhan, saya berserah semua kepada-Mu, biarkan Tuhan yang menentukan hukuman untuk orang itu." Jangan ada kebencian, jangan membalas dendam, roda itu berputar, karma itu sungguh ada, segala sesuatu ada sebab dan akibat, dan tidak selamanya yang merasakan karmanya adalah orang yang berbuat, ada kalanya itu berdampak ke orang yang dekat dengan kita. Jika sudah kamu hadapi tapi orang yang membuatmu kecewa masih terus berulang menambah kekecewaan, maka tinggalkanlah, karena itu salah satu cara memperlakukan diri sendiri dengan baik juga.

Terakhir dia bertanya kembali kepadaku, "Budi, jika pasanganmu berselingkuh, apakah kamu akan maafkan?" Saya cukup shock kenapa tiba-tiba dia bertanya begitu, sempat terdiam, kemudian saya menjawab "Saya akan maafkan, dengan syarat tidak terulang kembali." Saya balik bertanya "Kenapa bertanya begitu?" Dia menjawab: "Jika begitu, menikahlah Budi, kamu sudah siap, kamu sudah menyadari manusia pasti akan berbuat salah, baik itu sengaja mau tidak sengaja, tapi betul dengan syarat tidak terulang kembali. Kita tidak tahu kapan kita akan tergoda, tapi selalu ingat ada konsekuensinya."

Pesan dia sebelum akhiri pembicaraan "Senyumlah dari hati, kamu bisa bantu banyak orang."
Categories:

0 comments:

Post a Comment