Friday, March 18, 2016

Hangzhou, kota puitis.

Baru masuk pekerjaan baru bulan January kemarin, tidak sangka di bulan February sudah dapat dinas keluar negri, sungguh amazing rasanya. Meskipun negara yang dituju masih seputar China, tapi kali ini ada 2 lokasi baru. Mulai dari Beijing, lanjut ke Hebei kemudian berakhir di Hangzhou. Untuk kota Beijing tentu sudah asing lagi, walau sebenarnya belum explore sepenuhnya, tapi untuk Hefei dan Hangzhou, merupakan tempat yang belum pernah saya kunjungi.

Bermula dari 22 orang hingga akhirnya yang jadi berangkat sisa 15 orang (termasuk saya sendiri), layaknya seorang tour guide, saya harus memandu 14 orang lainnya dari Jakarta ke Beijing, sepanjang perjalanan terus muncul masalah-masalah yang cukup bikin panik, mulai dari Jakarta, pesawat terbang jam 8:30, tapi ada yang jam 07:50 baru tiba airport, setelah memohon mohon akhirnya diizinkan ganti boarding pass juga. Hingga saat transit di Hongkong, waktu transit relatif singkat (hanya 2 jam), biasanya jika saya traveling sendiri, waktu 2 jam sangat cukup bagi saya untuk explore seluruh aiport, bisa makan, belanja, hingga window shopping, tapi karena rombongan, lebih aman cukup ajak makan saja, setelah makan, rombongan minta waktu untuk sholat (karena mayoritas tim yang ikut beragama Muslim), kebetulan di airport Hongkong ada Prayers Room, bisa digunakan untuk keperluan agama, apa pun agamanya. Setelah sholat, waktu boarding sudah sangat mepet, jarak ke gate keberangkatan masih cukup jauh (harus naik bus transit ke gate domestik), pas sudah depan gate, ada anggota yang menghilang entah ke mana, mungkin nyangkut pas liat barang belanjaan atau kenapa, tapi last minute akhirnya nonggol orangnya dan semua bisa berangkat juga. Tiba Beijing masalah muncul lagi, saat semua sudah ambil bagasi dan keluar dari bea cukai, kita sudah siap-siap naik bus yang datang jemput, pas hitung jumlah orang, lagi-lagi ada yang menghilang, setelah cari sana sini selama hampir 2 jam, ternyata orangnya nyasar bukannya ke pintu keluar malah masuk kembali ke pintu keberangkatan, syukur ada petugas yang antar dia kembali ke pintu keluar. Satu hari yang melelahkan.

Suhu Beijing saat itu tidak terlalu dingin, suhu siang hari sekitar 6 derajat, tapi malam harinya bisa drop jadi -5 derajat, parahnya adalah anginnya cukup kencang, membuat dinginnya makin terasa. Celakanya saya alergi dengan musim dingin, pada hari ke-3, sekujur kaki dan tangan saya sudah mulai muncul bintik-bintik dan gatal-gatal, sungguh menderita rasanya, pasti butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh total dari bekas ruam-ruam merahnya.

Karena perjalanan dinas kali ini bertema tentang transportasi, jadi dari Beijing ke Hefei dan dari Hefei ke Hangzhou kami menggunakan High Speed Rail (Kereta Cepat), atau mungkin orang lebih menggenal Shinkansen punya Jepang. Walau bukan pertama kali naik kereta cepat, tapi tetap selalu merasa terkesan dengan kereta dan statiunnya, semoga dalam tidak lama lagi Indonesia juga sudah bisa mencapai standar seperti di China untuk prihal transportasi.

4 hari pertama di Beijing kebanyakan hanya urusan pekerjaan, kemudian di Hefei cuma 1 hari, jadi tidak banyak yang bisa diceritakan, karena tidak sempat explore juga, akhirnya kita tiba di Hangzhou dan kita menghabiskan waktu selama 3 hari di sini, so excited. Dari dulu saya sudah ingin banget explore kota Hangzhou dan Suzhou, akhirnya kesampaian juga bisa ke Hangzhou.

West Lake
Hangzhou, konon katanya kota para puitis, sastrawan dan wanita cantik, ditambah legenda tentang White Snake Legend, membuat kota ini "so chinese" menurut saya, keindahan West Lake, kemegahan Leifeng Pagoda, saat mengetahui bahwa saya akan ke kota ini langsung, saat tertidur juga bisa tersenyum rasanya. Untungnya, karena urusan pekerjaan, kami bisa nginap di hotel Sofitel yang jarak ke West Lake cuma sejauh nyebrang jalan, luxury five stars hotel ditambah pemandangan alam spektakuler, tak terbayang bahagianya kayak apa.
Leifeng Pagoda

Leifeng Pagoda (yang mengurung Siluman Ular Putih)

Kisah cinta Sanpek Engtai diceritakan di jembatan ini juga.

Sedikit pun tidak bohong jika Hangzhou dikatakan kota yang puitis, sayangnya tidak ada banyak waktu untuk jelajahi lebih banyak lokasi karena kebanyakan waktu habis untuk keperluan pekerjaan, semoga suatu saat ke China bisa murni untuk jalan-jalan, bukan dinas pekerjaan.

Tuesday, January 26, 2016

Kebutuhan yang paling penting agar kita tetap merasa puas.

Kebutuhan paling dasar manusia adalah "mengisi perut", saat kebutuhan perut sudah terpenuhi, maka akan mulai terpikir untuk kebutuhan kenyamanan, seperti tempat tinggal, pakaian untuk lindungi diri dari panas dan dingin, kemudian muncul keinginan untuk tampil menarik, dilanjut kebutuhan material lainnya, tapi setelah semua terpenuhi, kita tetap akan merasa kosong dan merasa apa yang kurang, apakah itu?


Sekitar 5 tahunan lalu, saat saya dinas ke Sulawesi, sempat kenal seorang rekan kerja, di mana dia orang yang aktif di gereja (saya sendiri agama Buddha), saya lupa bagaimana awalnya pembicaraan, kemudian kami jadi membahas kebutuhan piramida manusia, dia menceritakan kenapa manusia butuh agama atau kita bisa sebut "keyakinan"?

Kenapa orang kaya mengharapkan kehidupan orang sederhana, dan kenapa orang sederhana mengharapkan kehidupan orang kaya? Karena kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi. Orang yang berada tidak terpenuhi kebutuhan "rohani" sedangkan orang yang kurang berada tidak terpenuhi kebutuhan "bathin" yaitu kebutuhan dari soal perut hingga kebutuhan merasa aman. Apa itu kebutuhan rohani, di sini tidak mutlak menceritakan bahwa kita harus memeluk sebuah agama, tapi lebih ke hal bagaimana kita mengisi kebutuhan rohani dengan iman. Atau contoh sederhananya, agar tubuh jasmani sehat maka kita perlu makan, hidup di lingkungan yang sehat, merasa aman, dan pengetahuan, sedangkan agar jiwa kita merasa sehat, maka kita perlu punya keyakinan, iman dan semangat.

Sekarang mungkin saya berada di posisi tidak tahu harus bagaimana memberi makan kepada "jiwa", kadang saya merasa kesepian yang amat sangat, kadang merasa tidak tahu harus bagaimana melangkah lebih lanjut, kadang merasa tidak tahu bagaimana bersosial dengan orang sekitarnya. Saya sadar ada yang jadi masalah, saya harus keluar dari loop ini, tapi penyebab semua ini apa?

Dalam agama Buddha ada semacam dukkha (penderitaan) yaitu Penderitaan karena Perubahan (Viparinama-Dukkha), jika dijabarkan artinya penderitaan karena perubahan lingkungan seperti berpisah dengan orang yang dicintai, berkumpul dengan orang yang dibenci, tidak tercapai apa yang diinginkan. Apakah saya berada di statement ini?

Kadang di saat insomnia, saya berusaha merangkum "ada masalah apa dengan diriku?" kenapa saya berbeda dengan diriku yang 3 tahun lalu? Apa karena kematian kakek, disusul kematian om, sehingga mama skrg kehilangan pekerjaan dan hingga sekarang masih suka sedih jika teringat kembali, atau tumpukan kejenuhan pekerjaan lama atau bad relationship sebelumnya? Kadang saya berpikir hingga tanpa sadar meneteskan air mata.

Walau kita mengerti apa yang harus dilakukan jika ingin mempunyai "jiwa" yang sehat, tentu harus punya "raga" yang sehat juga. Tapi pelaksanaan tidak semudah mengucapkan, pernah ada suatu saat, di mana saya berusaha untuk makan, olah raga, kerja dan istirahat se normal mungkin, memenuhi kebutuhan "raga", tapi masih sangat sulit, kadang saya sering terbawa pikiran dan terhenti bengong tidak harus berbuat apa selanjutnya.
Mungkin Anda pernah melihat video "Soldier Coming Home Moments" di YouTube? Saya sadar dan ketahui bahwa saya sangat disayangin di lingkungan keluarga, tapi pada saat saya sudah tua, apakah akan ada anak kecil berlari menghampiriku dan memanggilku "Daddy" apakah akan ada seseorang selalu siap memberikan pelukan yang hangat? Seseorang yang bisa melengkapi jiwa ini? I wonder... Mungkin itu satu-satunya kekurangan yang belum bisa saya penuhi.

Walau sudah keluar dari zona nyaman pekerjaan yang lama, masuk ke zona pekerjaan baru, lingkungan yang baru, tapi sepertinya belum terlalu banyak memberikan efek, kemudian saya terpikir harus kembali setting goal, biar kehidupan terarah. Hidup ada target membuat kita terus terpacu dan pada saat tercapai, kita punya rasa kepuasan dan kebanggaan tersendiri, tapi pada saat kita terjatuh, ingatlah bawa semua hal yang dulu kita setting sebagai target, tidak akan membuat kita terhibur.
Saya merasa bersyukur ada keluarga yang terus menyeret saya kembali di saat saya merasa terpuruk, ada teman yang tanpa banyak bertanya tapi siap mendengarkan, ada orang yang telah kutinggalkan tapi masih bersedia jalin hubungan kembali, rasa syukur ini membuat saya merasa jauh lebih beruntung dari siapa pun, mungkin inilah salah satu "makanan" yang diperlukan "jiwa" agar tetap sehat. Hidup tidak akan berjalan mulus seperti yang kita inginkan, raga ini juga akan menua dan rusak pada waktunya, tapi jiwa yang diberi "makanan" yang sehat akan membuat perjalanan hidup punya arti ke diri sendiri maupun orang lain.


Wednesday, January 13, 2016

Jangan lengah di mana pun berada.

Minggu lalu saya mengalami hal yang sangat tidak menyenangkan, mobil saya kena bobol jadinya tas di dalam mobil diambil, isi tas ada dompet (termasuk semua kartu identitas, kartu atm dan kartu kredit), HP, Ipad, Laptop, Harddisk, Token Banking. Kronologis mobil diparkir di ruko City Resort depan vihara Simianfo, saya masuk sembahyang hanya 5 menit, pas kembali ke mobil masih tidak sadar bahwa tas sudah lenyap, karena kondisi mobil pintu masih terkunci dan kaca tidak pecah. Setelah tiba rumah saya baru sadar tas telah tiada, nyokap langsung mencoba telp ke HP tadi sudah tidak aktif, saya langsung bawa motor balik ke TKP, tadi sia-sia, petugas security, tukang parkir, tukang jualan semua tidak ada yang bisa membantu, saya diarahain lapor ke kantor pengelola, kemudian saya lanjut lapor ke polisi untuk surat pengurusan barang-barang yang hilang.

Memang sangat disayangkan terhadap materi yang hilang, dan repottnya harus urus kembali kartu identitas dan lain-lain, tapi saya paling sayang dengan data di laptop dan external HD yang berisi data (penting bagi saya) selama 10 tahun terakhir, ibarat orang yang hilang ingatannya.

Meski saya sudah banyak mendengar bahwa jangan pernah tinggalkan barang berharga di mobil, tapi tidak sangka hal ini terjadi pada diriku juga, dan kejadiannya di depan vihara. Kejadian ini membuat saya belajar harus hati-hati setiap saat dan di mana saja, jangan pernah taruh semua barang berharga di satu tempat yang sama. Himbau kepada semua orang juga agar selalu berhati hati terhadap barang bawaan, jangan pernah ditinggal di tempat umum yang kita mengira tempat aman.