Baru masuk pekerjaan baru bulan January kemarin, tidak sangka di bulan February sudah dapat dinas keluar negri, sungguh amazing rasanya. Meskipun negara yang dituju masih seputar China, tapi kali ini ada 2 lokasi baru. Mulai dari Beijing, lanjut ke Hebei kemudian berakhir di Hangzhou. Untuk kota Beijing tentu sudah asing lagi, walau sebenarnya belum explore sepenuhnya, tapi untuk Hefei dan Hangzhou, merupakan tempat yang belum pernah saya kunjungi.
Bermula dari 22 orang hingga akhirnya yang jadi berangkat sisa 15 orang (termasuk saya sendiri), layaknya seorang tour guide, saya harus memandu 14 orang lainnya dari Jakarta ke Beijing, sepanjang perjalanan terus muncul masalah-masalah yang cukup bikin panik, mulai dari Jakarta, pesawat terbang jam 8:30, tapi ada yang jam 07:50 baru tiba airport, setelah memohon mohon akhirnya diizinkan ganti boarding pass juga. Hingga saat transit di Hongkong, waktu transit relatif singkat (hanya 2 jam), biasanya jika saya traveling sendiri, waktu 2 jam sangat cukup bagi saya untuk explore seluruh aiport, bisa makan, belanja, hingga window shopping, tapi karena rombongan, lebih aman cukup ajak makan saja, setelah makan, rombongan minta waktu untuk sholat (karena mayoritas tim yang ikut beragama Muslim), kebetulan di airport Hongkong ada Prayers Room, bisa digunakan untuk keperluan agama, apa pun agamanya. Setelah sholat, waktu boarding sudah sangat mepet, jarak ke gate keberangkatan masih cukup jauh (harus naik bus transit ke gate domestik), pas sudah depan gate, ada anggota yang menghilang entah ke mana, mungkin nyangkut pas liat barang belanjaan atau kenapa, tapi last minute akhirnya nonggol orangnya dan semua bisa berangkat juga. Tiba Beijing masalah muncul lagi, saat semua sudah ambil bagasi dan keluar dari bea cukai, kita sudah siap-siap naik bus yang datang jemput, pas hitung jumlah orang, lagi-lagi ada yang menghilang, setelah cari sana sini selama hampir 2 jam, ternyata orangnya nyasar bukannya ke pintu keluar malah masuk kembali ke pintu keberangkatan, syukur ada petugas yang antar dia kembali ke pintu keluar. Satu hari yang melelahkan.
Suhu Beijing saat itu tidak terlalu dingin, suhu siang hari sekitar 6 derajat, tapi malam harinya bisa drop jadi -5 derajat, parahnya adalah anginnya cukup kencang, membuat dinginnya makin terasa. Celakanya saya alergi dengan musim dingin, pada hari ke-3, sekujur kaki dan tangan saya sudah mulai muncul bintik-bintik dan gatal-gatal, sungguh menderita rasanya, pasti butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh total dari bekas ruam-ruam merahnya.
Karena perjalanan dinas kali ini bertema tentang transportasi, jadi dari Beijing ke Hefei dan dari Hefei ke Hangzhou kami menggunakan High Speed Rail (Kereta Cepat), atau mungkin orang lebih menggenal Shinkansen punya Jepang. Walau bukan pertama kali naik kereta cepat, tapi tetap selalu merasa terkesan dengan kereta dan statiunnya, semoga dalam tidak lama lagi Indonesia juga sudah bisa mencapai standar seperti di China untuk prihal transportasi.
4 hari pertama di Beijing kebanyakan hanya urusan pekerjaan, kemudian di Hefei cuma 1 hari, jadi tidak banyak yang bisa diceritakan, karena tidak sempat explore juga, akhirnya kita tiba di Hangzhou dan kita menghabiskan waktu selama 3 hari di sini, so excited. Dari dulu saya sudah ingin banget explore kota Hangzhou dan Suzhou, akhirnya kesampaian juga bisa ke Hangzhou.
![]() |
| West Lake |
![]() |
| Leifeng Pagoda |
![]() |
| Leifeng Pagoda (yang mengurung Siluman Ular Putih) |
![]() |
| Kisah cinta Sanpek Engtai diceritakan di jembatan ini juga. |
Sedikit pun tidak bohong jika Hangzhou dikatakan kota yang puitis, sayangnya tidak ada banyak waktu untuk jelajahi lebih banyak lokasi karena kebanyakan waktu habis untuk keperluan pekerjaan, semoga suatu saat ke China bisa murni untuk jalan-jalan, bukan dinas pekerjaan.





