![]() |
| picture from tinybuddha.com |
Kembali sedikit cerita dari awal
tahun 2019, tahun lalu saya berhenti dari pekerjaan yang bisa memberiku
penghasilan yang lumayan dan memilih untuk coba berdikari, tapi saya gagal, 6
bulan pertama di tahun 2019 merupakan waktu yang sangat berat bagiku, saya hampir
kehilangan tujuan hidup, dan tekanan dari keluarga sangat besar walau mereka
tidak menyebutnya tapi itu sangat terasa saat kita tinggal di atap yang sama.
Di akhir pertengahan tahun baru terjadi perubahan, perubahan itu saya terima dengan
pasrah, karena berarti saya sudah menyerah mimpi ingin berdikari sendiri dan
kembali jalani hidup sebagai seorang pekerja, bukan berarti saya tidak bersyukur
tapi merasa sudah mengagalkan diri sendiri. Mungkin itu sebenarnya adalah pilihan, yang saya sendiri tidak
sadari, memilih untuk kembali ke zona nyaman.
Dalam sebuah moment yang santai, ada
rekan kantor pernah bilang “Hidup ini penuh dengan pilihan, sadari atau tidak,
kita selalu melakukan pilihan.” Beliau saat itu menyampaikan pemikiran ini
dalam hal soal pernikahan, beliau sedang membandingkan saya dengan satu rekan
kerja lainnya yang kira-kira hampir seumuran, rekan kerja yang dibandingkan itu
sudah berkeluarga dan anak pertama akan segera lahir, sedangkan saya masih single.
Beliau bilang mungkin bagi teman saya itu pilihannya ingin punya keluarga walau
harus korbankan me time, kebebasan
dan free time, sedangkan saya mungkin
lebih memilih kebebasan dibanding punya keluarga, itulah pilihan yang dimaksud,
sadar atau tidak sebenarnya kita sudah memilihnya. Saat itu saya tidak tahu
apakah pandangan beliau bisa sepenuhnya bisa dianggap benar olehku, apakah
benar itu yang saya pilih?
Soal pilihan berkeluarga, tentu
pernah jadi pilihan tapi selalu terhenti di suatu titik yang belum berani saya
lampaui, pernah saya mencoba bersikap pasrah serahkan pilihan kepada orang tua
tapi jadinya saya semakin stress saat memikirkan kembali, akhirnya saya tarik undur
sendiri. Kadang saat malam sunyi menjelang tidur, suka menatap kosong dan
berpikir apakah saya akan terus seperti ini? Kehidupan seperti apa yang saya
dambakan di hari tua nanti, suatu waktu saat saya akan meninggalkan dunia ini,
apakah saya akan pergi dengan senyap tanpa ada siapa pun di sampingku? Tentu
semua orang menginginkan kebahagiaan, hanya wujud yang beragam dan caranya
bervariasi, menemukan orang yang bisa berbagi pemikiran yang sama tidaklah
mudah, dari pengalaman-pengalaman terdahulu membuat saya tidak terlalu berharap
banyak kebahagiaan bisa diberikan oleh orang lain, yang saya dambakan sangat
sederhana, saat selesai kerja balik ke rumah ada yang tungguin atau ada yang
saya tungguin, makan bersama, ngobrolan tidak penting tentang aktivitas
sepanjang hari, mengeluh capek langsung ada yang beri pijitan ringan, nonton TV
bersama hingga ngantuk dan istirahat bersama, saat esok paginya buka mata dia
orang pertama yang saya lihat, semua gambaran seperti itu ada, tapi saya tidak
bisa membayangkan siapa orangnya. Lihat orang berpasangan di jalanan atau di
mana pun rasanya juga biasa saja, tidak ada rasa ingin seperti itu, tidak ada
pikiran mencari juga tidak menanti siapa pun, mungkin memang benar kata
temanku, saya memilih kebebasan? Saya tidak tahu, kadang merasa saya lebih
cenderung menutup diri ke orang lain.

Segala Hal Selalu soal pilihan. Pepatah Juga pernah bilang, Kita Tak pernah tahu apa yang Akan terjadi Hari esok. Hari ini semua seperti berjalan tanpa arah, tapi tanpa sadar seketika Kita Ada di titik tertentu. Saya kenal kamu cukup baik, atau setidak nya, saya pernah kenal kamu Cukup baik. Terkadang, perubahan tidak Akan datang dengan terus membuka pintu yang sama. Terkadang Ada baiknya, biarkan diri tenggelam dalam Rasa takut, lalu memaksakan diri keluar dari kebiasaan itu. Live is really Never flat, satu Ketika kamu mencoba satu Dua Hal Yg baru, seketika kamu Akan melihat segala nya berubah. Kamu berhak atas mimpi Masa Tua yang Bahagia, dengan segala angan mu, Dan orang yang sanggup mewujudkan semua nya, adalah diri kamu sendiri. Bukankah semua nya kembali soal pilihan?
ReplyDeleteMasa lalu yang Kau sebut kurang begitu baik, Percaya saya, itu takdir yang dipilihkan Tuhan untuk buat kamu jadi pribadi yang lebih baik saat ini.
-Dari saya selalu mengagumi kamu, Dan Akan selalu berhutang pada kamu-