Tuesday, October 10, 2017

Saya sudah rusak

Hari ini saya izin tidak masuk kantor, karena semalaman saya tidak bisa tidur, kepala saya sangat pusing, gejala seperti ini sangat saya takutkan, karena itu berarti ada orang sudah berhasil meluluhkan perasaan saya dan perasaan itu sedang dikecewakan.

Saya tergolong yang sangat mudah banyak pikiran, mungkin karena semua hal selalu ditanggapi dengan serius, terlalu serius malah, tapi jika dipikirkan kembali dulunya saya tidak begini, dulu mungkin sifat saya cenderung cuek, bersikap self defense tinggi, tidak ada yang bisa masuk ke hati saya dengan gampang, tapi semenjak saya pertama kali in relationship, saya mulai merasakan gejalanya, seperti tidak bisa tidur kadang bisa sampai 2 hari 2 malam, gelisah, curigaan, hingga terakhir setelah putus saya jadi mudah marah (tentu ini hanya terhadap orang yang saya peduli saja), saya sering curhat ke teman, bahwa saya tidak bisa kontrol emosiku, saat saya marah tangan saya akan gemetaran, kepala bagian belakang saya akan terasa pusing, gejala-gejala seperti ini hanya teman dekat yang tahu, dan mereka tahu kronologis penyebabnya apa.

Saya sadar bagaimana sebuah hubungan bisa mempengaruhi emosional saya secara menyeluruh, oleh karena itu saya berusaha sedingin mungkin ke orang yang berusaha mendekat, selain sebagai sebuah cobaan untuk mereka, tapi juga merupakan sebuah perisai untuk melindungi saya sendiri, kita harus mengerti mencintai diri kita sendiri sebelum kita memulai mencintai orang lain, itu prinsip yang saya pegang. Mencintai diri sendiri tentu ada banyak cara, seperti jaga kesehatan, pola hidup, lingkungan pergaulan dan bagaimana kita perlakukan orang lain.

Masih teringat dengan jelas di benak saya, bagaimana dulu saya tunduk kepada mantan saya, bahkan saat saya ingin putus, saya hanya bisa menunduk dan menanggis seperti anak kecil, saya begitu lemah, padahal saya diposisi yang dikecewakan, mungkin pengalaman itu memberi pukulan terlalu besar, sejak saat itu saya memilih mengeluarkan semua taring jika saya dikecewakan dari pada hanya diam menunduk, saya rasa mental saya sudah rusak sejak itu.

Kenapa saya bisa tiba-tiba menceritakan ini? Saat pertama kali putus, saya butuh waktu 1 tahun untuk move on, dan saat putus kedua kalinya, saya pikir mungkin butuh waktu setidaknya setahun juga untuk move on, tapi kali ini lebih cepat, saya tidak paham apa karena saya sudah tidak berharap apa-apa lagi ke depannya atau memang karena mental saya sudah rusak? Banyak yang mencoba mendekati, tapi hanya ada 1 yang saya izinkan untuk mendekat, padahal dalam hati saya sering berpikir bahwa dia bukan type saya, dia sangat sederhana, bahkan dia jauh lebih muda, dan ada beberapa history dia membuat saya sempat ragu-ragu, tapi saya mencoba hanya ingin lihat positifnya, saya suka yang sederhana, saya suka rasa saling memperhatikan, saya suka saling memberi pengaruh positif, karena saya merasa positif jika bertemu dengannya, tapi perasaan itu hilang saat dia tidak ada di samping, dia sering menghibur di kala saya sedang down, saya senang dengar suara dia saat telp, saya senang saat dia bersandar di dada saya, tentu semua itu tidak pernah saya sampaikan kepadanya, karena saya tahu dia mudah terbawa perasaan, saya ingin dia kenal saya pelan-pelan, tidak ingin dia ikuti jejak history dia yang sebelumnya, dan sepertinya saya ada rasa takut, bagaimana jika kestabilan emosional yang sudah saya pertahankan akhirnya goyang? Namun ditengah pendekatan, saya kalah oleh bayang-bayang history dia, saya sudah ada pengalaman tidak menyenangkan dulunya, saya takut akan terulang, akhirnya saya memilih mundur, saya memilih sayang diri sendiri.

Saya pikir harusnya semua sudah berakhir, saya bisa netral ke dia, saya ingin menjaga dia dengan cara yang berbeda, saya tidak tahu apakah ke depan masih ada harapan dengan dia atau tidak, tapi setidaknya saya nyaman saat dia bersamaku, ada semacam perasaan ingin menjaganya, arahkan dia ke arah yang lebih baik, tapi saya dapat kabar negatif tentangnya, saya sangat sedih saat mendengarnya, saya marah dan kecewa, awalnya saya mencoba tepis, tapi informasi datang terus menerus, saya merasa sudah dibohongi, emosi saya tidak terbendung dan akhirnya meluap. Saat itulah saya sadar, betapa penting sebenarnya dia bagi saya, hanya orang yang saya cintai yang bisa mempengaruhi emosional saya, cuma saya tidak mau mengakuinya saja, jika dia tidak ada artinya bagi saya, harusnya saya bisa cuek dan anggap keragu-raguan saya terjawab, tapi entah kenapa saya malah meluapkan emosi ke dia, mungkin kerusakan mental saya sudah cukup parah.

Mungkin dia masih mencari pembanding di luar sana, mungkin dia memang telah menemukan yang lebih baik dalam waktu yang relatif singkat, saya tidak ada hak apa-apa terhadap dia lagi. 



Sunday, October 8, 2017

My first memory, my first love



(Please listen to this song while reading this arthicel)

Di saat seperti ini tiba-tiba saya teringat orang yang pernah saya cintai, orang yang pernah mencintai saya balik dengan tulus dan sepenuhnya, kata orang cinta pertama adalah yang paling berkesan, dan saya bersyukur cinta pertama saya dalam hidupku begitu indah, dan tidak hanya satu, tapi ada 2 orang. Walau sudah kejadian 10 tahun lalu, tapi semua masih teringat jelas, bagaiman bertemu, bagaimana kenalan dan bagaimana berakhir, meski tidak sampai tahap jadian, berarti tidak ada istilah putus juga, tapi kenangan yang saya dapatkan sangat berharga, sebuah kenangan yang tak terlupakan.

Mungkin karena 3 tahun terakhir ini, semua relationship gugur, membuat saya terpicu teringat kenangan masa lalu, saya sering merasa ada konflik bathin yang luar biasa dalam diri sendiri, sudah sadar berada di kondisi yang tidak menyenangkan, tapi ujung-ujungnya malah bujuk diri sendiri untuk terus bertahan, demi apa? Saya juga tidak mengerti. Sekarang mungkin saya lebih memilih langsung cut tuntas, mungkin karena saya sudah malas mentoleransi orang lain, atau mungkin karena waktu saya sudah tidak banyak, atau mungkin pandangan saya terhadap cinta sudah berubah?

Cinta yang pertama terjadi saat baru lulus kuliah, mungkin dia orang pertama yang sapa saya "Koko", sejak dari itu jadi ada perasaan tersendiri terhadap sapaan ini, semula hanya berteman biasa, tidak pernah berpikir akan berkembang lebih jauh, saya juga tidak tahu isi hatinya, tanpa sadar pertemanan kita berlangsung sampai 5 tahunan, hingga suatu moment saat bertamu ke rumahnya, kita tidak sengaja berciuman, dari sana saya tahu, ternyata ciuman bisa membuktikan perasaan cinta kita terhadap orang itu atau tidak (setidaknya ini yang berlaku bagiku). Sejak itu saya sadar perasaan saya terhadapnya tidak hanya sekedar teman, tapi kita tidak pernah benar-benar membahasnya, kita selalu anggap itu hanya sebuah kejadian yang tidak sengaja. Saya selalu ingat, bagaimana dia membuat saya merasa spesial dibanding orang lain, dia suka bilang "koko akan terlihat bagus kalo tersenyum." (sambil tusuk pipi saya dengan jarinya dan ditarik ke atas, agar bibirnya terlihat sedang senyum), sesuatu yang tidak mungkin dilakukan ke orang lain. Saya merasa sangat bahagia jika dekat dia, ingin menjaganya, merawatnya, dan setiap rencana di masa depan ada dia di dalamnya, tapi kita tidak berani melangkah lebih jauh dari zona persahabatan.

Di saat itu, karena sudah masuk kerja, jadinya saya sering sering dinas ke China, di sana saya juga bertemu seseorang, awalnya saya juga tidak mengira akan ada hubungan lebih jauh, karena tiap kali kunjungan dinas hanya seminggu, walau cukup rutin hampir tiap bulan, tapi perasaan berkata lain, saya jatuh cinta, dengan kata lain saya mencintai dua orang secara bersamaan. Namun yang di China menolak perasaanku, saya juga berpikir tidak mungkin akan berhasil, karena jarak jauh, walau saya pulang dengan rasa kecewa, tapi setidaknya saya sudah berusaha, tidak ada penyesalan sama sekali.

Apakah saya berselingkuh? Tapi di lain sisi saya tidak ada ikatan hubungan, sempat jadi pikiran cukup lama, akhirnya saya memutuskan akan utarakan isi hati ke yang di Indonesia, dia tidak menolak, tapi dia juga tidak menerima, karena dia juga kebinggungan, dia pikir kita harusnya teman baik, sahabat dekat dan sudah seperti keluarga sendiri, tapi dia juga tidak bisa berbohong dengan perasaan dirinya, kita lebih dari sekedar teman, tapi kita tidak bisa resmi berpacaran, hingga 3 tahun ke depan, akhirnya dia pindah keluar negri, total 8 tahun bersamanya, saya sangat bahagia, bahagia dengan memory yang dia tinggalkan.

Dan tidak menduga dia yang di negri China akan kembali menghubungi saya, dengan dia saya merasa jelas, kita saling membangun sikap yang positif, kita suka kesederhanaan, bersama dia, saya merasa bagaikan harimau yang dipasang sayap, hehe...semoga bisa dimengerti perumpamaannya. Saat itu mungkin dia belum yakin, tapi setelahnya, dia mungkin sadar bahwa saya serius, kenangan tak terlupakan adalah saat saya dinas ke sana, dia luangkan waktu satu hari penuh untuk temani saya jalan-jalan, tanpa melihat HP sama sekali, seluruh waktunya untuk saya, saya sangat menghargai itu, karena saya masih ingat dulu dia tidak begini, dulu dia egois, tapi kemudian berubah total, pepatah bilang tidak ada orang yang bisa mengubah sifat orang lain, kecuali ada seseorang yang membuat orang itu mau berubah dengan sendirinya. Tapi anehnya kita juga tidak pernah resmi jadian, walau persahabatan kami sudah berjalan 9 tahun, hingga beberapa bulan lalu dia baru nyatakan, tapi saya menolak, di usia saya sekarang ini, saya tidak ingin terikat sebuah hubungan yang terpisah jauh puluhan ribu kilometer dan beda negara.

Saya bersyukur sudah bertemu dua orang yang hebat, yang telah memberi kenangan indah terhadap sebuah hubungan, mungkin keberuntungan saya sudah habis setelah itu, kadang saya berpikir apakah saya jadi tidak mudah percaya lagi, atau memang mata saya hanya terbuka saja oleh reality, bahwa segalanya tidak hanya ada sisi baik tapi juga ada sisi buruk.

Kita semua akan menjadi sebuah memory bagi orang lain, berusahalah untuk menjadi memory yang baik.