Friday, August 23, 2019

Hadiah untuk diri sendiri

Mungkin ini blog terpanjang dan terlama sejauh ini saya tulis, jadi harus banyak mengingat kembali saat menuangkan kembali dalam tulisan, karena kejadian yang diceritakan sudah mau setahun yang lalu.

November tahun lalu saya memberikan diri sendiri sebuah kado, kado yang saya inginkan, kata orang kebahagiaan itu berada di tangan diri sendiri dan cuma bisa diberikan oleh diri sendiri juga, mungkin bagi orang lain kado ini tidak ada artinya atau bahkan tidak menarik sama sekali.

Dipertengahan tahun 2017 saya pernah mengajukan berhenti dari pekerjaan, alasan sebenarnya karena terlalu sering “dianggurin” dan mengerjakan apa yang seharusnya tidak kukerjakan, walau semua bisa dikerjakan dengan baik tapi merasa unsur politik yang tajam di kantor, dan mungkin ada sedikit diskriminasi, saya beralasan mungkin kemampuan saya belum bisa penuhi kebutuhan perusahaan berharap perusahaan bisa memutuskan hubungan kerja lebih cepat dari semestinya (perlu diketahui bahwa jika saya berhenti kerja sebelum masa kerja berakhir, maka akan kena penalty sejumlah sisa bulan dikali gaji bulanan, itu berarti saya harus ganti rugi 18 bulan gaji). Permintaan tersebut tidak disetujui dan saya diminta untuk komitmen menyelesaikan masa kerja sesuai perjanjian kontrak, merasa negosiasi mentok, terpaksa saya harus terus melanjutkan pekerjaan hingga masa kontrak berakhir. Lantas setelah berhenti, apa langkah selanjutnya? Jujur, saya tidak tahu, saya hanya mengikuti apa kata hati, saya merasa harus keluar dari suasana tidak menyenangkan ini baru bisa tenang memikirkan apa selanjutnya. Saya terus berpikir dan berpikir tapi buntu, kemudian terlintas dari pada pusing dengan apa yang belum bisa dikendalikan, lebih baik nikmati apa yang bisa saya gapai, keputusannya nanti bulan Desember.

Di saat itu sebenarnya saya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan menenangkan, tapi tidak ada, jadi saya cari alternative lain untuk “menyenangkan diri” , belilah PS4, kemudian kamera, dan tiket PP Bangkok Chiangmai untuk acara Loy Krathong, bagi orang lain mungkin memang sekedar kado ulang tahun untuk diri sendiri, tapi sebenarnya ada yang sedang direncanakan, karena bagiku ini mungkin untuk terakhir kalinya bisa membelanjakan apa yang diinginkan tanpa berhemat diri, jika beruntung mungkin dalam waktu dekat bisa kembali normal, tapi jika tidak beruntung…mungkin harus bisa kencangkan ikat pinggang hingga waktu yang belum bisa diketahui.
PS4 dan kamera mudah dipahami karena memang hobby, lantas kenapa ke Chiangmai? Karena bertepatan di bulan November ada acara Loy Krathong yang sudah lama di nanti-nantikan dan saya benar benar berharap bisa nikmati keindahan lampion di tengah langit malamnya Chiangmai, kebetulan bertepatan untuk sekalian rayakan ulang tahun, tapi rencana solo traveling tidak berjalan mulus. Ditengah persiapan menuju hari keberangkatan, si dia yang di China ajak travelling, sebenarnya ajakan seperti ini sudah tidak asing, karena sudah cukup sering dia mengajak tapi hampir selalu saya tolak, dan kali ini juga saya tolak, karena semua wisata di Bangkok, Chiangmai, dan acara Loy Kratong sudah saya rencakan dan intinya ingin solo travelling. Saya cerita sedikit siapa Dia yang dimaksud, dengan dia sebenarnya sudah sangat tidak asing, karena sudah kenal dari tahun 2007 tapi tidak menuju status lebih lanjut, hanya sebatas teman, dia pernah bilang “sebenarnya kita sangat cocok, bayangkan saja kita sudah berteman bertahun tahun, meski beda warga negara, tapi komunikasi tidak pernah ada masalah.” Ya ada benarnya sih, kadang yang menggunakan satu bahasa saja mudah salah paham, komunikasi itu sangat penting, bukan sekedar chat tiap saat. Dia bilang saya bisa mengerti dia apa adanya, dan dia pernah sampaikan ingin LDR. Sejarah dengan dia cukup panjang, saya pernah benar-benar suka dengannya, tapi saat itu dia yang mundur, namun selang dua tahun kemudian dia mulai ajak komunikasi kembali dan sifat dia banyak berubah,  kemudian belum lama ini dia mengutarakan ingin LDR, saya sempat mempertimbangkan, karena perjalanan relationship selama ini juga gagal semua dan saya sudah malas untuk kenalan dengan orang baru, mungkin harus pertimbangkan orang lama, bisa jadi dia orang yang tepat untuk awet selamanya.

Akhirnya hari keberangkatan tiba juga, kamera sudah siap, tiket sudah ditangan, buku catatan untuk semua tujuan yang ingin dikunjungi juga sudah siap, bagaimana naik bus, naik LRT, bagaimana ke sana ke situ dan semuanya dinikmati sendirian, betapa menyenangkan nantinya, tapi ya seperti yang saya bilang tadi, tidak berjalan mulus, karena tiba-tiba dia mengkabari bahwa dia akan terbang dari China dan tiba di Bangkok di malam yang sama. Ya…saya bisa berkata apa, anggap saja sebuah kejutan, dan dia janji tidak akan ganggu jadwal yang sudah saya susun. Selama di pesawat saya jadi berpikir, kapan terakhir kalinya saya bertemu dengannya? Rasa-rasanya sudah hampir mau 5 tahun lalu, komunikasi juga jarang, chat satu dua baris seperlunya selesai, dan saya juga ingat baru beberapa bulan lalu saat dia ajak travelling (dari sana dia tahu schedule saya) dia juga menyampaikan tidak keberatan LDR, apakah ucapan dia saat itu serius? Mungkin pertemuan ini bisa memberi jawaban.

Pesawat mendarat, dari bandara saya langsung ke hotel, saya pilih hotel yang di area Asiatiq karena menurut informasi dari internet, acara Loy Kratong biasa berlangsung di lokasi dekat sungai, warga setempat akan melepaskan kapal kertas bentuk teratai ke sungai dan melepaskan lampion ke langit. Saya cek jam di HP sudah mau jam 6 sore dan dia baru akan tiba sekitar jam 8an malam, berarti harus lama menunggu. Jam tik tak tik tak, saya jadi berpikir, dia yang sekarang seperti apa? Gendutkah? Kuruskah? Rambut pendek atau panjang kah? Sempat tertidur karena kelamaan tunggu dan sebenarnya sudah sangat lapar dan sudah tidak sabar ingin jalan di jalanan malam kota Bangkok yang ramai,  mencoba tujuan kuliner yang pertama yaitu sup ikan, konon kedai ini People Choice, lihat foto dari internet saja sudah buat air liur mau netes. Hampir jam 9 malam akhirnya dia tiba di hotel, lima tahun tidak ketemu, bagaimana rasanya? Kata pertama yang keluar dari mulutnya “Kamu terlihat makin mirip bintang porno Jepang.” saya balas “Kamu terlihat makin lezat juga.” dan suara tertawa kita pun lepas.

Selama di Bangkok, dia tepati janji tidak ganggu jadwal yang sudah saya susun, kadang kita jalan sendiri-sendiri karena tujuan berbeda, kadang dia ikut saja ke mana saya pergi, kita banyak tukar cerita apa yang terjadi selama ini, siapa saja orang baru yang dikenal, tentang kerjaan dan saya ceritakan rencana untuk resign dari pekerjaan sekarang ini, dia kaget dan bertanya apakah sudah dapat pekerjaan baru? Saya menjawab belum ada dan belum ada rencana cari kerjaan baru. Kita juga bercerita soal relationship masing-masing, selama ini dia ada kenal beberapa orang dan semuanya juga gagal, uniknya adalah bagaimana dia memandang soal relationship, dia bilang “Jika karena suatu kondisi dan terjadi hubungan badan dengan orang lain saat dia masih berpasangan, maka ya terjadilah, saya tidak akan menyangkal, saya bukanlah orang suci.” Dia juga bercerita dia masih menyayangkan putus dengan pasangannya yang terakhir. Dari cara dia bercerita, saya menyadari ternyata tidak ada perasaan cemburu, marah, jijik, men-cap dengan tingkah laku dia atau apa pun, saya hanya netral sebagai pendengar, dan itu membuat saya sadar bahwa saya tidak mungkin LDR dengan orang di depan mata saya ini, kita hanya bisa sebatas teman, selama travelling walau kita tidur seranjang, tapi tidak pernah terjadi apa-apa. Saya merasa dengan dia sudah melewati satu fase yang berbeda.

Selesai dari Bangkok kami lanjut terbang ke Chiangmai, saat naik taxi menuju bandara dia terus genggam tanganku, saya penuh tebakan terhadap tindakan dia ini, tapi tidak pernah saya tanyakan langsung. Tiba Chiangmai, karena hotel pesanan kita berbeda, dia tawarkan untuk pindah ke hotelnya saja, saya booking hostel yang dekat keramaian dan dia booking resort yang jauh dari keramaian. Dikarenakan hostel yang saya pesan sudah full sehingga tidak memungkinkan dia untuk pesan lagi, maka akhirnya saya yang mengalah untuk ikut ke resort dia dan ternyata itu adalah suatu keputusan yang nantinya saya sadari tidak tepat. Transport di Chiangmai ternyata tidak seperti di Bangkok yang serba praktis, Chiangmai masih cenderung menggunakan taksi atau mobil rental, harga juga tidak murah, karena titik kita ke pusat keramaian juga relative jauh. Pada saat tiba di Chiangmai, driver yang antar kami ke hotel beritahu bahwa malam ini adalah hari terakhir perayaan Loy Krathong.
Resortnya memang indah, kamarnya juga besar, tapi lokasinya jauh ke tempat keramaian dan cuma bisa ditempuh dengan taxi. Selesai check in kami langsung makan besar, dan tidak ada pilihan tempat makan lain yang dekat selain di hotel. Habis makan istirahat kita langsung berangkat ke pusat kota dan suasana pusat kota sudah ramai pengunjung dari manca negara untuk menyaksikan keseruan Loy Krathong, kita jadi makin yakin kalau lokasi yang kita kunjungi sudah tepat, karena awalnya kita masih agak ragu apakah pemilihan titik untuk menyaksikan acara sudah tepat atau belum, meskipun sebenarnya supir taxi juga arahin kami ke titik ini.
Malam Loy Krathong sangat menyenangkan, saya beli 3 lentera untuk dilepaskan, tapi tidak ingat doa apa yang saya sampaikan, mungkin karena terlalu seru menikmati keramaian malam Loy Krathong, sebenarnya dalam hati masih merasa bahwa ini sepertinya bukan the best spot nya, tapi yang penting menikmati saja suasana keramaian malam itu dan tidak lupa mencicipi makanan baru.

 









Pulang ke hotel saya lihat sudah mau jam 3 pagi, suasana di hotel sunyi sepi, walau ada juga tamu lain melepaskan lentera dekat kolam renang, tapi beda sekali suasananya. Saya tidak ingat malam itu saya tertidur jam berapa, pagi saat bangun saya merasa badan agak panas, tapi saya abaikan lanjut mandi dan beres-beres, si dia masih tetap tidur, saya langsung pergi ke tempat sarapan sambal memikirkan hari ini ingin berkunjung ke mana lagi, selesai makan merasa ada yang tidak beres, badan saya semakin panas dan lemes, akhirnya saya terkapar di kasur saja. Dia sempat tanya kondisi saya, tapi saya persilahkan dia lanjut acara jalan-jalannya saja, saya tidak ingin merusak jadwal jalan-jalan dia dan kemarin dia sempat sudah rencanakan ingin ke beberapa tempat. 

Akhirnya saya berhasil bujuk dia lanjut jalan-jalan saja, dan dia bilang mungkin akan sekalian ketemuan dengan orang lain juga, tidak masalah bagi saya. Beberapa jam kemudian, dia pamit pergi dan saya sendirian di kamar, saat itu merasa kesadaran hanya ada setengah saja, tidak tahu sudah berbaring berapa lama, rasanya sudah jam makan siang jadi saya paksakan diri bangun dan mau jalan ke restoran hotel, itu saja dunia sudah rasanya bolak balik, padahal mungkin cuma berjarak tidak lebih dari 10 meter. Karena makanan Thailand mayoritas pedes, pikirnya mungkin menu bubur tadi pagi masih ada, untuk makan lainnya benar-benar tidak bisa, tapi pelayan hotel bilang layanan sarapan sudah ditutup, untuk menu bubur tidak ada di menu makan siang, saya kembali bertanya apakah ada klinik atau restoran di sekitar sini yang bisa terjangkau dengan jalan kaki? Staff hotel bilang tidak ada yang dekat, paling dekat mungkin sekitar 5km dari hotel, merasa tak berdaya akhirnya saya balik ke kamar memilih tidur saja, baru rebahan sebentar saya merasa tidak tahan dengan rasa lapar, demam dan pusing kepala, akhirnya saya paksakan kembali ke receptionis minta dipesankan taxi untuk pergi ke klinik, tapi staff hotel sangat membantu, mereka memutuskan mengantar saya langsung ke mini market terdekat untuk beli obat dan sekaligus beli makanan. Hari itu sepanjang hari saya tertidur lemas dengan kondisi demam dan sakit kepala, entah berapa lama saya tertidur hingga saya terdengar suara pintu terbuka, sepertinya sudah sangat malam, karena kondisi ruangan sangat gelap lampu belum dinyalakan dan sunyi, senyap-senyap saya berusaha buka mata, ternyata dia sudah pulang, dia sempat pegang kening dan bertanya apakah saya sudah makan belum? Tapi saya tidak jawab, bukan karena tidak mau jawab, tapi memang sudah sangat lemas bahkan untuk sekedar buka suara. Setelah dia beres-beres, dia juga naik ranjang untuk istirahat, dia kembali bertanya, sepertinya deman kamu tidak turun-turun, yakin besok kamu bisa berangkat ke bandara? Saya kembali tidak jawab, karena benar-benar sudah sangat lemes dan tidak tahan dengan pusing kepalanya, untuk buka mata saja rasanya sangat menyiksa. Jadwal kepulangan saya dengan dia memang berbeda, saya pulang sehari lebih cepat.

Subuh-subuh alarm hp sudah berbunyi, kondisi badan saya masih tidak membaik, sambil paksakan diri berberes dan packing, dia masih tertidur. Waktu menunjukkan jam 6 pagi, saya langsung pergi sarapan dengan harapan agar badan cukup kuat untuk tempuh perjalanan seharian nanti. Selesai sarapan saya balik ke kamar untuk ambil koper karena staff hotel sudah kabari taxi ke bandara sudah siap, saat masuk kamar dia masih di ranjang, setengah bangun bertanya, apakah badan kamu sudah baikkan? Saya bilang masih sama dengan kemarin, malah tadi makan sarapan tidak ada rasanya, tapi saya paksakan makan. Saya juga bertanya hari ini rencana jalan-jalan ke mana? Dia bilang hari ini dia sudah ada rencana ketemuan dengan temannya, sehabis itu saya pamitan dan dia lanjut tidur.
Sepanjangan perjalanan dari hotel ke bandara, saya tertidur lemas, bahkan tak kuat buka mata untuk melihat sekilas kota Chiang Mai untuk sekejap, penerbangan dari Chiang Mai ke Bangkok memang singkat hanya 30 menit, tapi penerbangan transit berikutnya dari Bangkok ke Jakarta masih lama, saya yang dalam kondisi lemas, demam, pusing kepala binggung harus menunggu di mana yang memungkinkan bisa tidur, setidaknya bisa buat rebahan, setiba di airport Bangkok, gate penukaran tiket masih belum dibuka, akhirnya saya memilih ke restoran saja, kembali paksa makan sesuatu biar ada tenaga, tapi apa pun yang dimakan semua hambar tak ada rasa dan harus dipaksakan untuk telan. Sehabis makan saya tertidur di meja restoran cukup lama, mungkin ada sejam, kemudian kembali cek ke penukaran boarding pass, merasa lebih aman menunggu di ruang tunggu saja mungkin bisa lanjut tidur dan jaga-jaga tidak ketinggalan pesawat, pada saat sudah di ruang tunggu, saya baru sadar sepertinya di airport Bangkok ada klinik, seharusnya saya bisa istirahat di sana, tapi sudah malas beranjak dari tempat duduk, malam itu juga dengan penuh perjuangan akhirnya saya selamat balik ke Jakarta.
Solo traveling ini mengajarkan saya banyak hal, saya merasa bersyukur saya tidak pernah merasa ada ketergantungan kepada siapa pun, merasa bersyukur tidak terlalu main perasaaan di saat single, dan merasa bersyukur tidak pernah banyak berharap ke siapa pun dalam kondisi seperti ini, saya sangat sabar dan santai menghadapi cobaan terakhir ini, entah kenapa dadakan bisa demam parah dan pusing kepala, padahal tidak ada gejala apa-apa sebelumnya dan bisa santai suruh teman lanjut jadwal acara dia tak perlu urusin saya, padahal teman ini bilangnya perhatian, sayang dan lain lain, saya baik-baik saja melewati semua ini, tidak ada ribut-ribut juga, semua ini seperti membuat semuanya terlihat lebih jelas, bahwa hampir semua orang itu selalu mengantungkan keinginnan dia kepada orang lain, berharap ingin dapat sesuatu dari orang lain, ingin waktunya, ingin perhatiannya, ingin hartanya (mungkin ada yang begitu), tapi tidak pernah ingin mengerti dan memberi apa yang orang lain inginkan, tidak semua kebaikan atau pemberi dari kita itu artinya wajib diterima orang lain juga, karena bisa jadi memang bukan itu yang diinginkan, tidak perlu menyalahkan orang lain yang tidak terima kebaikan dan tidak perlu merasa bersalah diri juga.
Saya merasa lega karena akhirnya bisa sampai rumah dan rebahan, merasa lega di dalam hati saya tidak menaruh harapan ke siapa-siapa lagi, untuk pertama kalinya saya merasa diri sendiri milik diri sendiri seutuhnya, tidak perlu laporan ke siapa pun, tidak perlu kuatirkan perasaan siapa pun dan tidak perlu diawasi oleh siapa pun, tantangan berikutnya adalah akhir bulan Desember, karena saya memutuskan akan resign…

Sunday, February 24, 2019

Aksesoris hidup

Saat topik “ten years challenge” sedang ramai dipost membuat saya jadi berpikir, sepuluh tahun? Apa yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir? dua puluh tahun terakhir? Atau bahkan lebih lama dari itu? Tentu tidak sebatas perubahan di fisik yang kita maksud, tapi apa yang sudah benar-benar terjadi dan membawa perubahan seperti apa, baik secara pola pikir, cara pandang, dan lainnya.

Saya membayangkan dari masa kecil, saat itu sudah alami banyak “rintangan” yang mungkin hampir tidak pernah saya ceritakan ke siapa pun, termasuk orang tua saya sendiri, saat kecil sering dihantui hal-hal gaib, dan mungkin karena masih lugu belum mengerti, sehingga tidak sampai meninggalkan trauma, saat sekolah juga tidak mudah, sering jadi objek yang diganggu, dicaci maki bahkan dipukul teman sekelas, mungkin karena merasa merasa saya terlalu pendiam, terlalu soft, anak seumuran pada umumnya main kelereng, saya lebih senang melamun sendiri, saat hujan anak kecil lari girang dijalanan main kejar-kejaran, saya hanya duduk melamun melihat hujan, saat anak-anak lain seru main bola, saya asyik dengan tontonan kartun sendiri, sehingga saat kecil saya sangat minder, tidak punya teman main. Saya selalu merasa ada yang lain dengan diriku sendiri, kenapa sulit bergaul dengan orang lain, dan sebaliknya juga berfikir kenapa orang tidak tertarik berteman dengan saya, kenapa sulit mengekspresikan diri sendiri? Setelah dewasa baru mengerti ini namanya “introvert”. Semua terasa lebih sulit, karena orang tidak begitu mudah memahamimu, kita harus belajar melebur dan kadang sendiri merasa tidaklah benar menjadi seorang introvert.

Jika tren topiknya adalah “twenty years challenge” apa kira-kira yang terbayang? Apa yang saya alami di dua puluh tahun lalu? Ada satu moment yang benar-benar tidak bisa kulupakan, namun sangat ingin saya lupakan dan berharap seandainya tidak pernah terjadi. Saat itu saya melakukan sebuah kesalahan (menurut saya) terhadap seseorang, saya diam-diam menyukainya selama tujuh tahun, saya menunjukan kasih sayang yang saya pikir itu adalah kasih sayang, tapi tujuh tahun waktu yang dihabiskan, bagi dia saya hanyalah “perusak kehidupan”, “pemerkosa martabat”, apa lagi yang bisa dikatakan? Minta maaf sudah bukan solusi lagi, karena ini sudah bukan sekedar siapa salah siapa benar, di saat usaha kita dipelintir menjadi sesuatu yang begitu buruk, kita harus mundur, tapi saya tidak pernah marah maupun dendam, jalan kami sudah berbeda, moment yang dulu hanya bisa dikubur, saya berusaha sangat keras untuk melupakan, Saat itu sempat mengalami depresi, saya menutup diri hampir 3 tahun, tidak mau bergul, tidak mau berkumpul dengan siapa pun, tidak main sosial media, hingga ada satu orang muncul, saya masih ingat nasehatnya, dia bilang “kamu orang yang baik, namun ada kalanya kamu harus pikirkan dirimu sendiri juga, karena hidup tidak serta merta selalu demi orang lain.” (Mengenai siapa dia akan saya ceritakan di lain posting), dari sana saya pelahan keluar dari bayangan depresi, dan itu tidak mudah, karena apa yang saya alami berikutnya juga tidaklah mulus, dari kejadian ini saya pelajari bahwa jangan pernah memaksakan “kasih sayang” kepada siapa pun, karena apa yang kamu berikan, belum tentu itu yang dia inginkan.

Jika tren topiknya adalah “ten years challenge” apa kira-kira yang terbayang? Saya membayangkan semua moment dinas tanpa henti, pertualangan dihutan, mengenang pertama kali ke China, ke kota-kota industri di China yang terkenal dengan polusi terparah, menginap setengah tahun di hotel di China, malam kesepian hanya bisa nyanyi sendiri di kamar, karena berada di kota kecil yang tidak ada hiburan, terjebak di jalan gunung karena ada truk tergelincir saat jalan licin oleh salju, saya dan teman-teman kelaparan sampai gemetaran, mengenang wisata ke Bali untuk pertama kalinya dengan teman kantor, lagu “Loving You” D’Cinnamons yang terus kuputar di mobil saat menelusuri jalanan di Bali, saya begitu ketagihan main parasailing, dan tentunya semua asmara yang tidak berjalan mulus, kadang merasa kenapa karma buruk saya soal asmara sepertinya tiada habisnya, rasa-rasanya apa yang dialami sudah cukup banyak, mulai dari yang manis maupun pahit, yang namanya cinta diam-diam, ditolak, menolak, dipermainkan, difitnah, dibohongi, bilangnya cinta tapi tingkah lakunya berbeda, bilangnya sayang tapi dikekang, diajak open relationship, dari berbunga-bunga hingga patah hati hancur berkeping-keping, sudah jatuh, ketimpa tangga, kemudian diinjak lagi dari atas tangga, tapi saya tidak menyesal, walau orang bilang saya bodoh saat itu, mungkin iya pernah membenci, mendendam, tapi saya belajar menerimanya, saat jalanin saya tulus, sepenuh hati, tidak mendua, saya berikan semua yang bisa kuberikan, hanya bisa bilang mungkin memang bukan jodoh, pembelajaran tentang menerima, memaafkan dan tidak membiarkan hal yang sama terulang kembali tidaklah mudah, kadang otak sudah teriak TIDAK, tapi hati tetap terjun. Ada yang masih bisa tetap berteman, namun ada yang tidak bisa, bukan karena tidak ingin, tapi mengubah perasaan tidak semudah tombol on off, kadang masih ada rasa sedih saat tidak sengaja melihat foto mereka, sedih karena saya gagal, bukan karena ingin kembali, melepaskan adalah jalan terbaik, saya mendoakan mereka menemukan kebahagiaan yang mereka dambakan.

Ada orang bilang “masa lalu hanyalah aksesoris dari sebagian jalan hidup, bukanlah beban dari keseluruhan hidupmu.” Saya bertanya ke diri sendiri, aksesoris apa yang akan saya selalu kenakan, aksesoris yang menunjukkan dan mengingatkan apa yang telah membawa perubahan seiring berjalannya waktu? Benci, amarah, senang, cinta, sedih atau parno?