Saya terbangun, menyadari sekitar dalam keadaan gelap gulita, apakah ini siang? Apakah ini malam? Atau apakah saya sudah meninggal dan terkubur di dalam tanah? Sempat heran kenapa bisa terpintas pikiran seperti itu, mungkin terlalu lelah untuk beranjak dari tempat tidur ini. Diam termenung, berusaha melihat sekeliling sebisa mungkin dalam kegelapan, ternyata saya berada di kamar sendiri, entah tertidur dari jam berapa, saya menggapai ponsel untuk cek sudah jam berapa sekarang, sinar dari ponsel begitu menyilaukan di mata, terlihat hampir jam 8 malam di layar, dengan kondisi lutut yang sakit sejak lama, saya keluar dari kamar turun ke ruang tamu, baru sadar rumah sedang kosong tertanda dari lampu perkarangan yang belum dinyalakan. Masih setengah ngantuk, saya duduk melamun di sofa, biarkan imajinasi berkembang, mengingat kembali kenapa tadi bisa ada pikiran “apakah saya sudah meninggal dan terkubur?”
Dulu pernah sharing dengan seorang teman, kebutulan dia punya bakat indra ke-enam, saya bercerita bahwa sering berimajinasi bahwa diriku bisa terbang (walau sebenarnya saya agak takut dengan jatuh dari ketinggian), menurut dia imajinasi ini tidak bagus, karena itu petanda sebenarnya saya ada niat lepas dari kehidupan, atau gamplang nya dibilang ada niat bunuh diri, cukup shock dengan penyampaian ini, sejauh ini tidak pernah berpikiran pendek seperti itu, malah lebih seringnya saya berimajinasi ingin hidup kekal abadi, alias immortal bahasa kerennya, hehehe…
Jika menurut pandangan konselor (yupe, saya pernah cari konselor untuk konsultasi soal kejiwaan), imajinasi saya menandakan semacam hasrat ingat bebas, semacam pola kehidupan yang mungkin cenderung berbeda dengan yang saya jalanin sekarang, sehingga bisa tertanam di alam bawah sadar menghendaki terbang bebas.
Ada pepatah bilang "butuh bertahun-tahun untuk mengubah yang buruk jadi baik, tapi hanya butuh sehari, bahkan sedetik untuk ubah yang baik jadi buruk." Saya menyadari ada semacam tekanan bathin yang sudah lama menekan, dulu mungkin saya masih kuat untuk membendung, tapi semakin ke sini saya merasa sangat mudah untuk terpancing emosi, jika sedang emosi saya bisa merasakan tangan saya gemetaran, kepala gerak-gerak sedikit (seperti film horor), mungkin reaksi saya sedang menekan, bukan tanda kesurupan, tapi tentu semua terjadi bukan tanpa pemicu. Kadang kita mengambil sikap sabar, diam diri untuk hindari konflik, tapi dipandang orang kita pasrah dibully atau pasrah dituntut, tapi pada saat kita merespon keras, kita juga dicap berprilaku tidak benar, mungkin lebih mudahnya kita memang mengabaikan saja, tapi kadang tersulut emosi dan tidak teredam. Buddha pernah bilang "Emosi itu bagaikan seseorang yang memberikan kado kepadamu, jika kamu menerimanya maka semua resiko dan tanggung jawab di tangan kita sendiri, namun jika kita menolak menerima, maka itu tetap menjadi tanggung jawab si pemberi."
Kadang saat sedang emosi, saya bisa berimajinasi menghajar orang itu, menonjok dia dengan semua tenaga, membantingkan kursi ke badannya, sampai dia tak berkutik dan menginjakkan kaki ke dadanya terus berkata "Jangan pernah menguji kesabaran saya." Dan setelah imajinasi itu selesai, saya merasa itu sesuatu yang mengerikan, tapi juga menyenangkan.
Di usia saya yang sudah angka kepala 3, saya merasa masih sangat tidak pintar "memilih" pergaulan, ditambah sifat saya yang introvert , membuat saya cenderung lebih senang jika habiskan waktu untuk hobby sendiri, bukan tanda saya tidak senang bergaul, cuma membutuhkan waktu untuk sendirian lebih banyak ketimbangan dengan orang lain, mungkin saya harus konsultasi dengan konselor saya lagi...
(tulisan ini sudah ditulis sejak bln May 2018)
