Hari ini saya izin tidak masuk kantor, karena semalaman saya tidak bisa tidur, kepala saya sangat pusing, gejala seperti ini sangat saya takutkan, karena itu berarti ada orang sudah berhasil meluluhkan perasaan saya dan perasaan itu sedang dikecewakan.
Saya tergolong yang sangat mudah banyak pikiran, mungkin karena semua hal selalu ditanggapi dengan serius, terlalu serius malah, tapi jika dipikirkan kembali dulunya saya tidak begini, dulu mungkin sifat saya cenderung cuek, bersikap self defense tinggi, tidak ada yang bisa masuk ke hati saya dengan gampang, tapi semenjak saya pertama kali in relationship, saya mulai merasakan gejalanya, seperti tidak bisa tidur kadang bisa sampai 2 hari 2 malam, gelisah, curigaan, hingga terakhir setelah putus saya jadi mudah marah (tentu ini hanya terhadap orang yang saya peduli saja), saya sering curhat ke teman, bahwa saya tidak bisa kontrol emosiku, saat saya marah tangan saya akan gemetaran, kepala bagian belakang saya akan terasa pusing, gejala-gejala seperti ini hanya teman dekat yang tahu, dan mereka tahu kronologis penyebabnya apa.
Saya sadar bagaimana sebuah hubungan bisa mempengaruhi emosional saya secara menyeluruh, oleh karena itu saya berusaha sedingin mungkin ke orang yang berusaha mendekat, selain sebagai sebuah cobaan untuk mereka, tapi juga merupakan sebuah perisai untuk melindungi saya sendiri, kita harus mengerti mencintai diri kita sendiri sebelum kita memulai mencintai orang lain, itu prinsip yang saya pegang. Mencintai diri sendiri tentu ada banyak cara, seperti jaga kesehatan, pola hidup, lingkungan pergaulan dan bagaimana kita perlakukan orang lain.
Masih teringat dengan jelas di benak saya, bagaimana dulu saya tunduk kepada mantan saya, bahkan saat saya ingin putus, saya hanya bisa menunduk dan menanggis seperti anak kecil, saya begitu lemah, padahal saya diposisi yang dikecewakan, mungkin pengalaman itu memberi pukulan terlalu besar, sejak saat itu saya memilih mengeluarkan semua taring jika saya dikecewakan dari pada hanya diam menunduk, saya rasa mental saya sudah rusak sejak itu.
Kenapa saya bisa tiba-tiba menceritakan ini? Saat pertama kali putus, saya butuh waktu 1 tahun untuk move on, dan saat putus kedua kalinya, saya pikir mungkin butuh waktu setidaknya setahun juga untuk move on, tapi kali ini lebih cepat, saya tidak paham apa karena saya sudah tidak berharap apa-apa lagi ke depannya atau memang karena mental saya sudah rusak? Banyak yang mencoba mendekati, tapi hanya ada 1 yang saya izinkan untuk mendekat, padahal dalam hati saya sering berpikir bahwa dia bukan type saya, dia sangat sederhana, bahkan dia jauh lebih muda, dan ada beberapa history dia membuat saya sempat ragu-ragu, tapi saya mencoba hanya ingin lihat positifnya, saya suka yang sederhana, saya suka rasa saling memperhatikan, saya suka saling memberi pengaruh positif, karena saya merasa positif jika bertemu dengannya, tapi perasaan itu hilang saat dia tidak ada di samping, dia sering menghibur di kala saya sedang down, saya senang dengar suara dia saat telp, saya senang saat dia bersandar di dada saya, tentu semua itu tidak pernah saya sampaikan kepadanya, karena saya tahu dia mudah terbawa perasaan, saya ingin dia kenal saya pelan-pelan, tidak ingin dia ikuti jejak history dia yang sebelumnya, dan sepertinya saya ada rasa takut, bagaimana jika kestabilan emosional yang sudah saya pertahankan akhirnya goyang? Namun ditengah pendekatan, saya kalah oleh bayang-bayang history dia, saya sudah ada pengalaman tidak menyenangkan dulunya, saya takut akan terulang, akhirnya saya memilih mundur, saya memilih sayang diri sendiri.
Saya pikir harusnya semua sudah berakhir, saya bisa netral ke dia, saya ingin menjaga dia dengan cara yang berbeda, saya tidak tahu apakah ke depan masih ada harapan dengan dia atau tidak, tapi setidaknya saya nyaman saat dia bersamaku, ada semacam perasaan ingin menjaganya, arahkan dia ke arah yang lebih baik, tapi saya dapat kabar negatif tentangnya, saya sangat sedih saat mendengarnya, saya marah dan kecewa, awalnya saya mencoba tepis, tapi informasi datang terus menerus, saya merasa sudah dibohongi, emosi saya tidak terbendung dan akhirnya meluap. Saat itulah saya sadar, betapa penting sebenarnya dia bagi saya, hanya orang yang saya cintai yang bisa mempengaruhi emosional saya, cuma saya tidak mau mengakuinya saja, jika dia tidak ada artinya bagi saya, harusnya saya bisa cuek dan anggap keragu-raguan saya terjawab, tapi entah kenapa saya malah meluapkan emosi ke dia, mungkin kerusakan mental saya sudah cukup parah.
Mungkin dia masih mencari pembanding di luar sana, mungkin dia memang telah menemukan yang lebih baik dalam waktu yang relatif singkat, saya tidak ada hak apa-apa terhadap dia lagi.
0 comments:
Post a Comment