Dia menanggis lagi tadi siang, tiap kali melihatnya begitu aku selalu tidak tega, rasanya begitu tak berdaya, pengen menghibur tapi takut terbawa suasana, jika aku berada di posisinya, mungkin aku juga akan tenggelam di rasa duka yang entah kapan baru bisa berlalu.
Bulan July merupakan bulan yang berat bagi keluarga kami, saya ingin menceritakan cerita ini dari sisi mama saya, dalam dua minggu dia kehilangan papa dan koko (kakak laki-laki) yang paling dekat dengannya.
Tgl 15 July malam, kakek saya (mama punya papa) meninggal dunia sejam setelah menolak dirawat di rumah sakit, saya melihat langsung kakek "pergi" selamanya di hadapanku, begitu cepat, tanpa ada rasa sakit, tanpa ada rasa penderitaan (setidaknya itu yang saya ketahui), meski kami semua merasa kehilangan, tapi kami mengerti bahwa kakek pergi karena faktor usia, kami harus merelakan kepergiannya. Setelah kakek pergi, semua sanak saudara pada berkumpul bantu mengurus urusan pemakaman, paman ke-tiga saya yang di Jakarta yang paling jarang ikut berkumpul juga segera balik dari dinasnya di Lombok pada esok harinya. Anak laki-laki kakek yang pertama (paman pertama) bersama istrinya juga bergegas datang esok malamnya ke rumah duka, sesuai adat kami, jika anak di luar kota pada saat orang tua meninggal tidak ada berada di sisinya, maka pada saat pulang harus berlutut dari ujung depan rumah hingga ke samping sisi peti orang tuanya. Hari kedua, anak perempuan pertama kakek juga bergegas datang dari Bagan, saya melihat dia berlutut dari ujung depan rumah duka, sambil menanggis memanggil nama bapanya. Pada hari ketiga mama saya dan paman kedua menyusul datang ke Jakarta. Paman kedua dan mama lebih tenang saat datang, mungkin karena pada kunjungan mereka saat kakek masih sakit sebelumnya mereka sudah ada persiapan mental.
Kakek dimakamkan di hari ke-6, sebelum ditutup petinya, kami semua melihat wajah kakek untuk terakir kalinya, sangat perih melihat kepergian anggota keluar, meski kita sudah ada persiapan mental, tapi tidak ada rasa tidak rela. Dalam ingatan saya, waktu kecil kakek suka naik sepeda datang berkunjung ke rumah hanya sekedar demi minum kopi buatan mama (mamaku lumayan hebat seduh kopi - at least for me she is the best), kakek orang yang berwibawa, sangat galak, mungkin karena bawaan background keluarga. Bagiku kakek saya adalah orang yang membuat keluarga besar ini solid dan sehati.
Selesai acara pemakaman kakek, pada hari esoknya semua mulai balik ke tempat kerja masing-masing, paman kedua, mama dan tante balik ke Bagan dua hari kemudian, saya yang antar langsung ke bandara sampai ke ruang tunggu baru aku pamit pulang.
Ternyata setelah balik ke Bagan, paman langsung jatuh sakit, papa dan mama di Bagan bergantian rawat, karena keluarga paman kebetulan semuanya sedang berada di Jakarta, jadi paman sendirian di Bagan.
Hari ke-4 semenjak kepulangan paman, datang kabar yang sangat mengejutkan, saya masih ingat hari itu hari Sabtu, saya baru bangun tidur dan masih malas2an di ranjang merencanakan bagaimana manfaatkan liburan lebaran, tiba2 ada telp dari tante (adiknya mama), ini telp yang sangat tidak biasanya, karena tante jarang banget telp saya, apalagi saat itu baru jam 8 pagi, aku tidak angkat, kemudian dari luar kamar terdengar suara adik yang cukup kencang; "Paman meninggal!" . Tidak percaya dengan apa yang saya dengar, saya langsung berlari keluar kamar menanyakan apa yang terjadi, dan saat itu aku sadar kenapa tante bisa telp saya pagi-pagi, aku segera telp balik, tapi tante sudah tidak bisa berkata dengan jelas, karena dia tidak bisa menahan tangisan.
Aku dan adik2 berempat langsung ke rumah paman di Jakarta, berharap ada yang bisa kami bantu, ternyata istri dan anaknya sudah berangkat pulang Bagan naik pesawat paling pagi, kemudian kami memutuskan ikut menyusul naik pesawat sore. Saya, adik, tante dan beberapa sepupu, kami naik pesawat yang sama. Butuh waktu cukup panjang, pertama harus naik pesawat 1 1/2 jam dari Jakarta ke Pekanbaru, kemudian lanjut naik mobil 6-8 jam, apalagi pas menjelang malam takbiran, lebih sulit lagi untuk mendapat kendaraan, tapi syukur sepanjang perjalanan tidak ada kendala.
Tiba bagan sudah jam 12malam lebih, sampai depan rumah paman sudah terlihat koko sepupu berlutut menanggis di depan pintu, keempat anak paman nanggis sampai mau pingsan, tante juga nanggis, istrinya paman terlihat sudah seperti orang kebinggungan, yang paling parah adalah mama saya, jujur sampai sebesar ini saya belum pernah melihat mama saya nanggis begitu sedih, saya cuma bisa memeluk dan menghiburnya.
Mama dan paman tidak hanya sekedar hubungan kakak adik kandung, tapi juga bos dan karyawan, mama sudah kerja dengannya sejak masih gadis, paman punya usaha pakaian dan mama adalah penjahitnya, dulu saat sekolah semua seragam sekolahku diukur oleh paman dan dijahit oleh mamaku sendiri, bahkan hingga kerja pun celana kerjaku masih dijahit oleh mamaku sendiri.
Sejak kepergian paman, mama sering meneteskan air mata, bagi mama memang ini pukulan yang sangat berat, baru kehilangan papa, selang dua minggu kemudian kehilangan koko, itu juga berarti dia kehilangan pekerjaan.
Mama dan paman sering bepergian bareng, dtg berkunjung ke jakarta jg biasa bareng, bbrp tahun lalu juga wisata bareng ke China.
Setelah paman dimakamkan, aku dan saudara lain sudah balik Jakarta, hampir tiap hari aku akan telp balik untuk ngobrol dengan mama hanya untuk sekedar pastikan mama baik2 saja.
Bulan September kemarin, adik menikah (selang dua bulang setelah kakek dan paman meninggal), aku melihat mama meneteskan air mata lagi, hatiku berkata mungkin mama sedang berpikir seandainya papa dan kokonya masih ada, pasti bisa ikut merasakan kebahagiaan ini.
Mama dan paman tidak hanya sekedar hubungan kakak adik kandung, tapi juga bos dan karyawan, mama sudah kerja dengannya sejak masih gadis, paman punya usaha pakaian dan mama adalah penjahitnya, dulu saat sekolah semua seragam sekolahku diukur oleh paman dan dijahit oleh mamaku sendiri, bahkan hingga kerja pun celana kerjaku masih dijahit oleh mamaku sendiri.
Sejak kepergian paman, mama sering meneteskan air mata, bagi mama memang ini pukulan yang sangat berat, baru kehilangan papa, selang dua minggu kemudian kehilangan koko, itu juga berarti dia kehilangan pekerjaan.
Mama dan paman sering bepergian bareng, dtg berkunjung ke jakarta jg biasa bareng, bbrp tahun lalu juga wisata bareng ke China.
Setelah paman dimakamkan, aku dan saudara lain sudah balik Jakarta, hampir tiap hari aku akan telp balik untuk ngobrol dengan mama hanya untuk sekedar pastikan mama baik2 saja.
Bulan September kemarin, adik menikah (selang dua bulang setelah kakek dan paman meninggal), aku melihat mama meneteskan air mata lagi, hatiku berkata mungkin mama sedang berpikir seandainya papa dan kokonya masih ada, pasti bisa ikut merasakan kebahagiaan ini.
(Yg dibelakang adalah paman dan istrinya, yg di depan mulai dari kiri ke kanan adalah nenek, tante ke 3, kakek, tante ke 4, kemudian mama saya)
Hingga blog ini ditulis, nenek saya masih belum tahu bahwa anak ke 2 nya telah tiada.
Kakek dan paman, semoga kalian bisa terlahir ke kehidupan yang lebih baik.

0 comments:
Post a Comment