Cobaan dinas kembali melanda, dari yang semula terjadwal
dinas 4 hari berubah menjadi 6 hari, rasanya cukup berat tapi demi kerjaan
tidak ada pilihan lain. Mungkin ini cobaan yang diberikan untukku atau memang untuk
menguji keseriusan orang yang nantinya akan mendampingiku.
Dinas yang berturut-turut sebelumnya, sungguh menyita “me
time” dan menguras stamina, habis Philipine lanjut ke China, belum juga terbiasa
dengan kemacetan Jakarta tapi sekarang sudah harus kembali dinas ke China lagi.
Dinas bukan masalah, tapi rasa kehilangan setelah dinas sering menghantui. Tiap
kali pulang pergi dinas, pasti ada yang berubah, tak lain adalah saat memulai
sebuah relationship, sudah beberapa relationship yang berusaha aku bina
sebelumnya, tapi semuanya pasti akan kandas tiap kali aku pulang dari dinas, semuanya
jadi dingin. Apakah jarak memang kutukan dalam relationship atau jarak membuat
kita lihat jelas kesungguhan bersama dalam membina hubungan?
Saat dinas ke China pertengahan September sebelumnya, sempat
ada kenalan baru, awalnya aku tidak terlalu banyak menaruh perhatian, karena
kupikir paling cuma sekedar kenalan say “Hi” saja, nantinya juga akan hilang
sendiri tanpa kabar, tapi yang ini sepertinya beda, akhirnya aku memutuskan
ajak dia ketemuan untuk nonton bersama.
Singkat cerita, setelah confirm judul film dan jam tayang
aku pun membeli tiket dan menunggu kedatangannya. Waktu baru menunjukkan jam 9
malam dan jam tayang filmnya jam 12 malam, masih cukup banyak waktu. Sambil
menunggu aku hanya duduk melamun di lobby, beberapa saat kemudian ada text
masuk darinya, tertulis “kamu sudah beli tiketnya?” Firasatku saat itu langsung
berkata “ini 100% pasti tidak jadi datang, so u better have a good reason.” Langsung
saja aku jawab “Sudah beli tiketnya, tapi jika kamu mendadak ada urusan lain
gpp kok, aku gak masalah.” Dan memang benar, dia tidak bisa datang, bilangnya
sih kirain tadi aku cuma cek jadwal dan tidak jelas dengan film yang aku pilih
tadi. Sebenarnya saat itu aku sudah malas banget ladenin, paling tidak suka
dengan orang yang ingkar janji dan beri alasan tak jelas. Gak lama kemudian,
dia kembali kirim text: “kamu benaran sudah beli tiket? Coba fotoin.” Aku hanya
balas dingin “Buat apa, emg kamu bisa nonton? Sudahlah gpp.” Benar-benar sudah malas ladenin dia, karena
sudah rada emosi juga, tapi tetap penasaran ingin dapat jawaban kenapa dia ingkar
janji mendadak, penjelasan dia “maaf gak
bisa pergi, karena mendadak harus ke rumah duka.” Aku pikir, ini sudah jam 10
malam, dan begitu mendadak, pasti kerabat dekatnya. Dia menjelaskan harus ke
rumah duka karena tantenya meninggal. Ya apa boleh buat, jika itu alasannya aku
hanya bisa terima, dan akhirnya aku juga batal nonton sendiri. Antara merasa
dikecewakan dan malas pulang rumah, akupun keluar dari mall memilih cari tempat
nongkrong untuk sekedar minum, tak lama kemudian kembali ada text darinya tanya
aku akhirnya nonton dengan siapa, saat itu sudah mau jam 11 malam, kira2 siapa
yang mau temani aku nonton midnight mendadak begitu? Rasanya sangat tidak
mungkin. Malam itu awalnya aku memang sudah merasa hampa sekali dan sekarang
dikecewain oleh orang yang aku bahkan belum pernah ketemu, hhmmm…cukup apes.
Esok harinya dia kembali kirim text, bilangnya dia gak
enakan karena ada urusan mendadak dan menyampaikan tantenya baru dikremasi.
Sejak saat itu intensitas dia kirim text lebih sering dari sebelumnya, dan dia
berusaha mengatur pertemuan berikutnya, aku juga menyetujui untuk bertemu
kembali.
Setelah pertemuan pertama, kami mengatur pertemuan kedua,
dari dua kali pertemuan aku kira-kira sudah bisa mengambil sedikit kesimpulan
tentang kepribadiannya, dia org yang sangat eksis di jaringan social, suka
memberi perhatian dan suka diperhatikan, punya mantan yang sempat jalan 4 tahun
tapi sekarang masih berteman, selera humor tinggi, ceria, bermulut manis, tapi
sepertinya banyak menyimpan rahasia tentang masa lalunya, namun aku kembali
berpikir, siapa yang tidak punya masa lalu? Asal di masa depannya tidak terlena
oleh masa lalu saja.
Entah kenapa aku merasa nyaman saja saat jalan bersamanya,
tapi aku tetap tidak ingin begitu cepat ambil keputusan. Hingga pertemuan
ketiga, dia akhirnya jujur juga bahwa sebenarnya dia bohong soal ke rumah duka,
karena dia terlalu kuatir untuk bertemu denganku, karena aku terlalu cool, dan
teman-teman genk dia juga tidak mendukungnya bertemu denganku saat itu, tapi
juga binggung memberi alasan, akhirnya bilang pergi ke rumah duka. Dari sifatku
harusnya aku tak akan mau ketemu org ini kembali, karena alasanya keterlaluan,
tapi aku melanggar peraturanku sendiri, dalam hatiku berkata, ada sesuatu yang
lain darinya yang membuatku ingin jalanin bersamanya, melihat sejauh mana kami
bisa saling berdampingan.














