Sunday, February 24, 2019

Aksesoris hidup

Saat topik “ten years challenge” sedang ramai dipost membuat saya jadi berpikir, sepuluh tahun? Apa yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir? dua puluh tahun terakhir? Atau bahkan lebih lama dari itu? Tentu tidak sebatas perubahan di fisik yang kita maksud, tapi apa yang sudah benar-benar terjadi dan membawa perubahan seperti apa, baik secara pola pikir, cara pandang, dan lainnya.

Saya membayangkan dari masa kecil, saat itu sudah alami banyak “rintangan” yang mungkin hampir tidak pernah saya ceritakan ke siapa pun, termasuk orang tua saya sendiri, saat kecil sering dihantui hal-hal gaib, dan mungkin karena masih lugu belum mengerti, sehingga tidak sampai meninggalkan trauma, saat sekolah juga tidak mudah, sering jadi objek yang diganggu, dicaci maki bahkan dipukul teman sekelas, mungkin karena merasa merasa saya terlalu pendiam, terlalu soft, anak seumuran pada umumnya main kelereng, saya lebih senang melamun sendiri, saat hujan anak kecil lari girang dijalanan main kejar-kejaran, saya hanya duduk melamun melihat hujan, saat anak-anak lain seru main bola, saya asyik dengan tontonan kartun sendiri, sehingga saat kecil saya sangat minder, tidak punya teman main. Saya selalu merasa ada yang lain dengan diriku sendiri, kenapa sulit bergaul dengan orang lain, dan sebaliknya juga berfikir kenapa orang tidak tertarik berteman dengan saya, kenapa sulit mengekspresikan diri sendiri? Setelah dewasa baru mengerti ini namanya “introvert”. Semua terasa lebih sulit, karena orang tidak begitu mudah memahamimu, kita harus belajar melebur dan kadang sendiri merasa tidaklah benar menjadi seorang introvert.

Jika tren topiknya adalah “twenty years challenge” apa kira-kira yang terbayang? Apa yang saya alami di dua puluh tahun lalu? Ada satu moment yang benar-benar tidak bisa kulupakan, namun sangat ingin saya lupakan dan berharap seandainya tidak pernah terjadi. Saat itu saya melakukan sebuah kesalahan (menurut saya) terhadap seseorang, saya diam-diam menyukainya selama tujuh tahun, saya menunjukan kasih sayang yang saya pikir itu adalah kasih sayang, tapi tujuh tahun waktu yang dihabiskan, bagi dia saya hanyalah “perusak kehidupan”, “pemerkosa martabat”, apa lagi yang bisa dikatakan? Minta maaf sudah bukan solusi lagi, karena ini sudah bukan sekedar siapa salah siapa benar, di saat usaha kita dipelintir menjadi sesuatu yang begitu buruk, kita harus mundur, tapi saya tidak pernah marah maupun dendam, jalan kami sudah berbeda, moment yang dulu hanya bisa dikubur, saya berusaha sangat keras untuk melupakan, Saat itu sempat mengalami depresi, saya menutup diri hampir 3 tahun, tidak mau bergul, tidak mau berkumpul dengan siapa pun, tidak main sosial media, hingga ada satu orang muncul, saya masih ingat nasehatnya, dia bilang “kamu orang yang baik, namun ada kalanya kamu harus pikirkan dirimu sendiri juga, karena hidup tidak serta merta selalu demi orang lain.” (Mengenai siapa dia akan saya ceritakan di lain posting), dari sana saya pelahan keluar dari bayangan depresi, dan itu tidak mudah, karena apa yang saya alami berikutnya juga tidaklah mulus, dari kejadian ini saya pelajari bahwa jangan pernah memaksakan “kasih sayang” kepada siapa pun, karena apa yang kamu berikan, belum tentu itu yang dia inginkan.

Jika tren topiknya adalah “ten years challenge” apa kira-kira yang terbayang? Saya membayangkan semua moment dinas tanpa henti, pertualangan dihutan, mengenang pertama kali ke China, ke kota-kota industri di China yang terkenal dengan polusi terparah, menginap setengah tahun di hotel di China, malam kesepian hanya bisa nyanyi sendiri di kamar, karena berada di kota kecil yang tidak ada hiburan, terjebak di jalan gunung karena ada truk tergelincir saat jalan licin oleh salju, saya dan teman-teman kelaparan sampai gemetaran, mengenang wisata ke Bali untuk pertama kalinya dengan teman kantor, lagu “Loving You” D’Cinnamons yang terus kuputar di mobil saat menelusuri jalanan di Bali, saya begitu ketagihan main parasailing, dan tentunya semua asmara yang tidak berjalan mulus, kadang merasa kenapa karma buruk saya soal asmara sepertinya tiada habisnya, rasa-rasanya apa yang dialami sudah cukup banyak, mulai dari yang manis maupun pahit, yang namanya cinta diam-diam, ditolak, menolak, dipermainkan, difitnah, dibohongi, bilangnya cinta tapi tingkah lakunya berbeda, bilangnya sayang tapi dikekang, diajak open relationship, dari berbunga-bunga hingga patah hati hancur berkeping-keping, sudah jatuh, ketimpa tangga, kemudian diinjak lagi dari atas tangga, tapi saya tidak menyesal, walau orang bilang saya bodoh saat itu, mungkin iya pernah membenci, mendendam, tapi saya belajar menerimanya, saat jalanin saya tulus, sepenuh hati, tidak mendua, saya berikan semua yang bisa kuberikan, hanya bisa bilang mungkin memang bukan jodoh, pembelajaran tentang menerima, memaafkan dan tidak membiarkan hal yang sama terulang kembali tidaklah mudah, kadang otak sudah teriak TIDAK, tapi hati tetap terjun. Ada yang masih bisa tetap berteman, namun ada yang tidak bisa, bukan karena tidak ingin, tapi mengubah perasaan tidak semudah tombol on off, kadang masih ada rasa sedih saat tidak sengaja melihat foto mereka, sedih karena saya gagal, bukan karena ingin kembali, melepaskan adalah jalan terbaik, saya mendoakan mereka menemukan kebahagiaan yang mereka dambakan.

Ada orang bilang “masa lalu hanyalah aksesoris dari sebagian jalan hidup, bukanlah beban dari keseluruhan hidupmu.” Saya bertanya ke diri sendiri, aksesoris apa yang akan saya selalu kenakan, aksesoris yang menunjukkan dan mengingatkan apa yang telah membawa perubahan seiring berjalannya waktu? Benci, amarah, senang, cinta, sedih atau parno?