Saat topik “ten years challenge” sedang ramai dipost membuat
saya jadi berpikir, sepuluh tahun? Apa yang terjadi selama sepuluh tahun
terakhir? dua puluh tahun terakhir? Atau bahkan lebih lama dari itu? Tentu
tidak sebatas perubahan di fisik yang kita maksud, tapi apa yang sudah
benar-benar terjadi dan membawa perubahan seperti apa, baik secara pola pikir,
cara pandang, dan lainnya.
Saya membayangkan dari masa kecil, saat itu sudah alami
banyak “rintangan” yang mungkin hampir tidak pernah saya ceritakan ke siapa
pun, termasuk orang tua saya sendiri, saat kecil sering dihantui hal-hal gaib,
dan mungkin karena masih lugu belum mengerti, sehingga tidak sampai
meninggalkan trauma, saat sekolah juga tidak mudah, sering jadi objek yang
diganggu, dicaci maki bahkan dipukul teman sekelas, mungkin karena merasa
merasa saya terlalu pendiam, terlalu soft, anak seumuran pada umumnya main
kelereng, saya lebih senang melamun sendiri, saat hujan anak kecil lari girang
dijalanan main kejar-kejaran, saya hanya duduk melamun melihat hujan, saat
anak-anak lain seru main bola, saya asyik dengan tontonan kartun sendiri,
sehingga saat kecil saya sangat minder, tidak punya teman main. Saya selalu
merasa ada yang lain dengan diriku sendiri, kenapa sulit bergaul dengan orang
lain, dan sebaliknya juga berfikir kenapa orang tidak tertarik berteman dengan
saya, kenapa sulit mengekspresikan diri sendiri? Setelah dewasa baru mengerti
ini namanya “introvert”. Semua terasa lebih sulit, karena orang tidak begitu
mudah memahamimu, kita harus belajar melebur dan kadang sendiri merasa tidaklah
benar menjadi seorang introvert.
Jika tren topiknya adalah “twenty years challenge” apa
kira-kira yang terbayang? Apa yang saya alami di dua puluh tahun lalu? Ada satu
moment yang benar-benar tidak bisa kulupakan, namun sangat ingin saya lupakan
dan berharap seandainya tidak pernah terjadi. Saat itu saya melakukan sebuah
kesalahan (menurut saya) terhadap seseorang, saya diam-diam menyukainya selama
tujuh tahun, saya menunjukan kasih sayang yang saya pikir itu adalah kasih
sayang, tapi tujuh tahun waktu yang dihabiskan, bagi dia saya hanyalah “perusak
kehidupan”, “pemerkosa martabat”, apa lagi yang bisa dikatakan? Minta maaf
sudah bukan solusi lagi, karena ini sudah bukan sekedar siapa salah siapa
benar, di saat usaha kita dipelintir menjadi sesuatu yang begitu buruk, kita
harus mundur, tapi saya tidak pernah marah maupun dendam, jalan kami sudah
berbeda, moment yang dulu hanya bisa dikubur, saya berusaha sangat keras untuk
melupakan, Saat itu sempat mengalami depresi, saya menutup diri hampir 3 tahun,
tidak mau bergul, tidak mau berkumpul dengan siapa pun, tidak main sosial
media, hingga ada satu orang muncul, saya masih ingat nasehatnya, dia bilang
“kamu orang yang baik, namun ada kalanya kamu harus pikirkan dirimu sendiri
juga, karena hidup tidak serta merta selalu demi orang lain.” (Mengenai siapa
dia akan saya ceritakan di lain posting), dari sana saya pelahan keluar dari
bayangan depresi, dan itu tidak mudah, karena apa yang saya alami berikutnya
juga tidaklah mulus, dari kejadian ini saya pelajari bahwa jangan pernah
memaksakan “kasih sayang” kepada siapa pun, karena apa yang kamu berikan, belum
tentu itu yang dia inginkan.
Jika tren topiknya adalah “ten years challenge” apa
kira-kira yang terbayang? Saya membayangkan semua moment dinas tanpa henti, pertualangan
dihutan, mengenang pertama kali ke China, ke kota-kota industri di China yang
terkenal dengan polusi terparah, menginap setengah tahun di hotel di China,
malam kesepian hanya bisa nyanyi sendiri di kamar, karena berada di kota kecil
yang tidak ada hiburan, terjebak di jalan gunung karena ada truk tergelincir
saat jalan licin oleh salju, saya dan teman-teman kelaparan sampai gemetaran, mengenang
wisata ke Bali untuk pertama kalinya dengan teman kantor, lagu “Loving You”
D’Cinnamons yang terus kuputar di mobil saat menelusuri jalanan di Bali, saya
begitu ketagihan main parasailing, dan tentunya semua asmara yang tidak
berjalan mulus, kadang merasa kenapa karma buruk saya soal asmara sepertinya
tiada habisnya, rasa-rasanya apa yang dialami sudah cukup banyak, mulai dari yang
manis maupun pahit, yang namanya cinta diam-diam, ditolak, menolak,
dipermainkan, difitnah, dibohongi, bilangnya cinta tapi tingkah lakunya
berbeda, bilangnya sayang tapi dikekang, diajak open relationship, dari
berbunga-bunga hingga patah hati hancur berkeping-keping, sudah jatuh, ketimpa
tangga, kemudian diinjak lagi dari atas tangga, tapi saya tidak menyesal, walau
orang bilang saya bodoh saat itu, mungkin iya pernah membenci, mendendam, tapi
saya belajar menerimanya, saat jalanin saya tulus, sepenuh hati, tidak mendua,
saya berikan semua yang bisa kuberikan, hanya bisa bilang mungkin memang bukan
jodoh, pembelajaran tentang menerima, memaafkan dan tidak membiarkan hal yang
sama terulang kembali tidaklah mudah, kadang otak sudah teriak TIDAK, tapi hati
tetap terjun. Ada yang masih bisa tetap berteman, namun ada yang tidak bisa,
bukan karena tidak ingin, tapi mengubah perasaan tidak semudah tombol on off, kadang
masih ada rasa sedih saat tidak sengaja melihat foto mereka, sedih karena saya
gagal, bukan karena ingin kembali, melepaskan adalah jalan terbaik, saya
mendoakan mereka menemukan kebahagiaan yang mereka dambakan.
Ada orang bilang “masa lalu hanyalah aksesoris dari sebagian
jalan hidup, bukanlah beban dari keseluruhan hidupmu.” Saya bertanya ke diri
sendiri, aksesoris apa yang akan saya selalu kenakan, aksesoris yang
menunjukkan dan mengingatkan apa yang telah membawa perubahan seiring
berjalannya waktu? Benci, amarah, senang, cinta, sedih atau parno?
