Pernah seorang sahabat bercerita tentang pengalamannya, pengalaman yang sudah dia kubur puluhan tahun. Saat itu saya sedang kuliner ke suatu tempat dan sekalian berkunjung ke tempat temanku ini. Temanku ini umurnya sudah 33-34 tahun, pria yang cukup mapan di kotanya, punya rumah dan segalanya, tapi belum punya pasangan, dan itu memancing rasa penasaran untuk bertanya, memang kadang aku juga tidak nyaman menanyakan pertanyaan seputaran jodoh, karena diriku sendiri juga masih single. Dia menceritakan sebenarnya dia pernah pacaran beberapa kali, bahkan yang terakhir sudah hampir sampai tahap mau tunangan, tapi kemudian dia menyerah, kenapa? Tentu itu yang dipertanyakan.
Ada penyebab lain kenapa temanku ini bisa membuka cerita tentang pengalamannya, awalnya karena saya mengetahui dia ada masalah dengan tidur. Dia bercerita mulai dari jam 11 malam dia sudah mencoba untuk lelapkan mata, tapi selalu sampai lewat jam 3 pagi baru bisa tertidur dan jam 6 pagi sudah terbangun, kemudian beraktivitas seperti biasa. Segala usaha sudah pernah dia lakukan, dia ke phisikiater, menggunakan obat tidur, mendengarkan lagu terapi, bahkan sampai berdoa (temanku ini beragama Buddha dan sangat beriman), tapi semua tidak membuahkan hasil. Saat itu saya sempat menceritakan pengalamanku karena suatu hal dan tidak bisa tertidur selama 3 hari 2 malam dan mungkin itu yang membuat dia mau mulai bercerita tentang pengalamannya.
Ceritanya saat dia masih berumur 18-19 tahun, dia pernah bertemu dan menyukai seorang wanita yang umurnya jauh di atasnya, umurnya sekitar 35 tahun. Itu merupakan cinta pertamanya, demi bertemu dengan wanita itu, dia beralasan pergi liburan jalan-jalan dengan teman keluar kota, tapi sebenarnya dia menghabiskan waktu 2 minggu tinggal bersama orang itu, wanita itu sendiri juga masih belum menikah saat itu, dia menceritakan betapa bahagianya dia saat itu, bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama. Dua minggu berlalu, dia pun harus balik ke kotanya, dan jarak bagi dia bukan masalah, tapi masalah mulai muncul semenjak dia pulang, saat dia berusaha menghubungi wanita tersebut, telp tidak pernah diangkat, pesan text juga tidak pernah dibalas, sampai dia pernah mencoba mengunjungi rumahnya kembali, tapi tetap tidak ada hasil. Hati dia hancur, dia tidak mengerti apa kesalahan yang telah dibuat (jika memang ada kesalahan). Cerita sampai sini, dia sempat terhenti, terlihat di ekspresinya dia sedang banyak pikiran, dan ada air mata yang tertahan, membuka luka lama memang sangat menyakitkan. Setelah agak terkendali, dia lanjut bercerita, sejak itu dia pernah mencoba jalan dengan beberapa orang, tapi semuanya tidak happy ending, dan dari kejadian pertama itu telah meninggalkan bekas yang sampai sekarang belum bisa sembuh, yaitu di tiap saat dia sedang sendirian dan hening, dia akan terus memikirkan "pertanyaan" yang hingga kini belum terjawab.
Sudah 10 tahun lebih, apa yang membuat seseorang bisa bertahan untuk waktu sepanjang itu hanya demi sebuah pertanyaan yang belum terjawab?
Manusia bisa berubah, pemikiran bisa berubah, tapi perasaan yang ada kalanya mudah berubah malah bisa bertahan hingga waktu yang tidak menentu.
Untuk poin ini, saya sendiri pernah mengalaminya, meski tidak sampai 10 tahun lamanya, lantas bagaimana aku melewatinya? Aku hanya bisa beri sendiri jawaban, walau kadang pertanyaan itu akan timbul kembali, dan yang bisa saya lakukan hanya menjadi makin dingin terhadap segala hal.
Sebulan lalu, penyakit "susah tidur" kambuh kembali, kali ini kasusnya beda dan lebih mengerikan, otakku berpikir terus tiada henti memikirkan jawaban, kenapa? kenapa? dan kenapa? 24 jam full saya tidak bisa tidur, kemudiaan selang beberapa hari kembali terulang, hingga beberapa minggu terus begitu. Dan akhirnya saya terpaksa memberi diri sendiri jawaban, yaitu "saya belum pantas."
Malam itu saya tertidur, dalam mimpi kamu datang menghampiri diriku yang sedang duduk diam termenung, kamu menyadarkanku dengan memegang pundakku, saya memegang tanganmu dan menuntunmu berjalan menuju suatu tempat....
Aku terbangun dan sadar semua itu hanya mimpi yang tidak mungkin terjadi...
0 comments:
Post a Comment