Kebutuhan paling dasar manusia adalah "mengisi perut", saat kebutuhan perut sudah terpenuhi, maka akan mulai terpikir untuk kebutuhan kenyamanan, seperti tempat tinggal, pakaian untuk lindungi diri dari panas dan dingin, kemudian muncul keinginan untuk tampil menarik, dilanjut kebutuhan material lainnya, tapi setelah semua terpenuhi, kita tetap akan merasa kosong dan merasa apa yang kurang, apakah itu?
Sekitar 5 tahunan lalu, saat saya dinas ke Sulawesi, sempat kenal seorang rekan kerja, di mana dia orang yang aktif di gereja (saya sendiri agama Buddha), saya lupa bagaimana awalnya pembicaraan, kemudian kami jadi membahas kebutuhan piramida manusia, dia menceritakan kenapa manusia butuh agama atau kita bisa sebut "keyakinan"?
Kenapa orang kaya mengharapkan kehidupan orang sederhana, dan kenapa orang sederhana mengharapkan kehidupan orang kaya? Karena kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi. Orang yang berada tidak terpenuhi kebutuhan "rohani" sedangkan orang yang kurang berada tidak terpenuhi kebutuhan "bathin" yaitu kebutuhan dari soal perut hingga kebutuhan merasa aman. Apa itu kebutuhan rohani, di sini tidak mutlak menceritakan bahwa kita harus memeluk sebuah agama, tapi lebih ke hal bagaimana kita mengisi kebutuhan rohani dengan iman. Atau contoh sederhananya, agar tubuh jasmani sehat maka kita perlu makan, hidup di lingkungan yang sehat, merasa aman, dan pengetahuan, sedangkan agar jiwa kita merasa sehat, maka kita perlu punya keyakinan, iman dan semangat.
Sekarang mungkin saya berada di posisi tidak tahu harus bagaimana memberi makan kepada "jiwa", kadang saya merasa kesepian yang amat sangat, kadang merasa tidak tahu harus bagaimana melangkah lebih lanjut, kadang merasa tidak tahu bagaimana bersosial dengan orang sekitarnya. Saya sadar ada yang jadi masalah, saya harus keluar dari loop ini, tapi penyebab semua ini apa?
Dalam agama Buddha ada semacam dukkha (penderitaan) yaitu Penderitaan karena Perubahan (Viparinama-Dukkha), jika dijabarkan artinya penderitaan karena perubahan lingkungan seperti berpisah dengan orang yang dicintai, berkumpul dengan orang yang dibenci, tidak tercapai apa yang diinginkan. Apakah saya berada di statement ini?
Kadang di saat insomnia, saya berusaha merangkum "ada masalah apa dengan diriku?" kenapa saya berbeda dengan diriku yang 3 tahun lalu? Apa karena kematian kakek, disusul kematian om, sehingga mama skrg kehilangan pekerjaan dan hingga sekarang masih suka sedih jika teringat kembali, atau tumpukan kejenuhan pekerjaan lama atau bad relationship sebelumnya? Kadang saya berpikir hingga tanpa sadar meneteskan air mata.
Walau kita mengerti apa yang harus dilakukan jika ingin mempunyai "jiwa" yang sehat, tentu harus punya "raga" yang sehat juga. Tapi pelaksanaan tidak semudah mengucapkan, pernah ada suatu saat, di mana saya berusaha untuk makan, olah raga, kerja dan istirahat se normal mungkin, memenuhi kebutuhan "raga", tapi masih sangat sulit, kadang saya sering terbawa pikiran dan terhenti bengong tidak harus berbuat apa selanjutnya.
Mungkin Anda pernah melihat video "Soldier Coming Home Moments" di YouTube? Saya sadar dan ketahui bahwa saya sangat disayangin di lingkungan keluarga, tapi pada saat saya sudah tua, apakah akan ada anak kecil berlari menghampiriku dan memanggilku "Daddy" apakah akan ada seseorang selalu siap memberikan pelukan yang hangat? Seseorang yang bisa melengkapi jiwa ini? I wonder... Mungkin itu satu-satunya kekurangan yang belum bisa saya penuhi.
Walau sudah keluar dari zona nyaman pekerjaan yang lama, masuk ke zona pekerjaan baru, lingkungan yang baru, tapi sepertinya belum terlalu banyak memberikan efek, kemudian saya terpikir harus kembali setting goal, biar kehidupan terarah. Hidup ada target membuat kita terus terpacu dan pada saat tercapai, kita punya rasa kepuasan dan kebanggaan tersendiri, tapi pada saat kita terjatuh, ingatlah bawa semua hal yang dulu kita setting sebagai target, tidak akan membuat kita terhibur.
Saya merasa bersyukur ada keluarga yang terus menyeret saya kembali di saat saya merasa terpuruk, ada teman yang tanpa banyak bertanya tapi siap mendengarkan, ada orang yang telah kutinggalkan tapi masih bersedia jalin hubungan kembali, rasa syukur ini membuat saya merasa jauh lebih beruntung dari siapa pun, mungkin inilah salah satu "makanan" yang diperlukan "jiwa" agar tetap sehat. Hidup tidak akan berjalan mulus seperti yang kita inginkan, raga ini juga akan menua dan rusak pada waktunya, tapi jiwa yang diberi "makanan" yang sehat akan membuat perjalanan hidup punya arti ke diri sendiri maupun orang lain.

0 comments:
Post a Comment