Do you know how to forgive and forget?
Jujur, saya juga tidak tahu bagaimana caranya. Rasanya seperti dipaksakan minum racun, di saat badan kita berusaha netralisasi racun, tapi terus dicegokin racun lagi, hasilnya badan kita sudah tidak secepat itu dan butuh waktu lebih lama untuk menetralisai dan mind set sudah trauma jika disodorin minuman lagi.
Saya membaca banyak artikel tentang inner peace, tentang memaafkan, tentang kedamaian, semua menceritakan "jika kita pernah disakiti, janganlah pernah membalasnya, tapi hadapi dan maafkan." Mudah bukan kedengarannya, tapi pelaksanaanya? Apa saya tidak pernah mencobanya? Andaikan pada saat Anda mencoba memaafkan seseorang, tapi yang Anda alami adalah penambahan luka yang lain, orang yang berusaha kamu maafkan seakan-akan merasa dia telah melakukan segalanya, tapi faktanya dia hanya mengulang kembali perbuatan yang dulu merusak kepercayaan "secara tidak langsung" lagi dan tanpa dia sadari, mungkin disadarkan juga hanyalah mendapat respon mengecewakan, yaitu sebuah ucapan berupa: "aku hanya menyampaikan perasaanku saja." tanpa menghiraukan perasaan orang yang sebenarnya harus dia jaga.
Apa pun jenis kesalahan yang pernah buat, jika seseorang memang ingin meminta dimaafkan, harusnya berusaha menyakinkan bahwa dia merasa bersalah, membuktikan dia tidak akan mengulanginya dan lakukan dengan tindakan nyata, bukan dengan datang dan pergi seenaknya. Jika begitu caranya hanya membuka luka lama dan memperparah suasana.
Ada sebuah artikel bilang "memaafkan tidak butuh dua orang", saya rasa ini sangat tepat, bagaimana pun juga kita tidak bisa mengharapkan orang yang pernah berkhianat bisa menyembuhkan luka yang telah dibuat, ibaratnya jika pernah digigit buaya, jangan pernah percaya buaya tidak akan gigit kamu lagi karena dia bersumpah telah jadi vegetarian, tapi lihat saja sejauh mana dia buktikan. Namun apa itu mungkin buaya jadi vegetarian? Itulah sebabnya "memaafkan tidak butuh dua orang".
Mudah disebut tapi sulit dilakukan, kita tidak bisa sembarangan curhat, tidak bisa balas dendam, tidak bisa membuka hati kembali, pilihannya hanya harus maafkan dulu, but how? Orang bilang hidup ini singkat, so forgive and forget, enjoy life. Tapi bagaimana?
Dulu saya selalu berpikir perbuatan baik pasti akan dibalas dengan kebaikan juga, ya sialnya paling diabaikan, tapi paling tidak kita tidak disakiti berkali lipat dari kebaikan yang telah diberikan, dan menghasut diri kita sendiri harus bersabar hanya karena kita peduli dan hargai perasaan orang lain, lantas bagaimana perasaan diri kita sendiri? siapa yang jaga?
Pernah tidak merasa sulit membedakan mana yang baik mana yang buruk? Apa seorang pencuri dibilang buruk jika dia mencuri demi beri makan anak istri? Apa seorang pembohong dibilang buruk jika dia berbohong demi kepentingan banyak orang? Jadi orang berbohong, berdusta, berselingkuh itu buruk? Bagaimana jika dia akan mati jika tidak melakukan hal tersebut karena ada kelainan jiwa, apa kita tetap bisa bilang dia orang buruk? Mungkin orang malah memaklumi perbuatannya. Jadi apa yang membedakan baik dan buruk?
Kriminal terbesar seseorang adalah meninggalkan "bekas luka" di hati orang lain, jangan perlakukan orang dengan cara yang tidak ingin kamu alami sendiri. Forgive and forget bukan hal yang mudah, bukan sesuatu yang jadi rutinitas ucapan sehari-hari, bukan mainan anak kecil, bukan di kanan say sorry tapi di kiri tetap mengulang hal yang sama. Forget and forgive hanya akan terjadi jika semua "sudah tidak penting" lagi, saat orang yang melakukan semua ini "bukan siapa-siapa" lagi.

0 comments:
Post a Comment