Thursday, September 19, 2013

Kumusta ka?

Kumusta ka? Artinya "Apa kabar?" di bahasa Tagalog (Philipine). Sapaan singkat yang aku belajar dari teman lokal. Asyiknya dinas kali ini karena bisa berangkat sendiri ke kota yang sepenuhnya belum pernah kukunjungi, totally adventure!

Rasanya masih belum bisa percaya akhirnya aku diutus ke Philipine juga, padahal 2 tahun lalu saat aku ajukan diri ingin diutus ke sana namun ditolak karena alasan keamanan. Bicara soal keamanan, keadaan politik di Philipine memang rada tegang, mungkin bagi traveler yg pernah ke Philipine pasti mainnya di arena Philipine utara, dan celakanya aku diutus ke Philipine Selatan, di mana tempat berlangsungnya genjatan senjata antara penduduk muslim, non muslim dan komunis.

Di sini aku tidak banyak bercerita soal travel di Philipine, karena memang tidak sempat untuk travel, jadi cuma menceritakan perjalanan selama 5 hari di Philipine.

1st day: Saat mendarat di terminal Ninoy Aquino International Airport di Manila, kalian akan melihat tulisan besar Mabuhay, dalam bahasa Tagalog yg berarti Selamat Datang, tapi sepertinya juga berarti Long Live! Terminal di Manila terbagi 3, sama seperti Jakarta, untuk penerbangan international ada di terminal 1 dan 2, sedangkan untuk domestik mayoritas di terminal 3. Jadi bagi teman-teman yang naik international flight, harus tanyakan terlebih dahulu airlines nya ada di terminal berapa, seperti saya naik Singapore Airlines ada di terminal 1, sedangkan untuk Philipines Airlines sendiri ada di terminal 2. Terminal Manila terkesan sederhana, jauh lebih kecil dibanding terminal Soekarno Hatta, yang unik adalah tempat jemputan, ada papan yg memberi keterangan tempat jemput sesuai nama, seperti saya Budi, maka saya tunggu di waiting area untuk initial ABC, hehehe... Aku diatur nginap di Hotel Quantum (Malayan Plaza) di arena Pasig City, hotelnya biasa sih gpp, tapi kok kesannya rada angker ya..

2nd day: Subuh jam 3 sudah bangun, siap2 kemudian jam 4 berangkat ke bandara terminal 3, dengan pesawat Cebu Pasific lanjut penerbangkan ke Ozamiz (Philipine Selatan) yang berada di pulau Mindanau, penerbangan 1 jam 30 menit, begitu tiba aku cukup kaget dengan airportnya, bukan hanya sangat kecil, bahkan saat pengambilan bagasi juga bagaikan lagi di pasar, di mana semua bagasi ditumpukkan di satu tempat, kemudian semua penumpang samperin ambil koper masing-masing.



















Selesai ambil koper, mobil jemputan sudah menunggu, dan benar sesuai yang diceritakan oleh rekan kerja sebelumnya bahwa akan ada bodyguard yang akan mendampingi dan menjaga sepanjang perjalanan, dan mereka punya SENJATA, oh my gosh! ternyata kondisinya memang sangat tegang, tapi aku malah merasa makin excited, mungkin udah bosan hidup kale ya, xixixix...

Dari Ozamiz via darat aku menuju Pagadian City selama 2 jam perjalanan, kemudian lanjut lagi ke lokasi kerja (tambang) di Bayog, sampai sana lebih keren lagi, atau lebih tepatnya lebih mencengkam lagi, karena ada 11 security dan beberapa anggota polisi lengkap bersenjata sudah standby untuk mendampingin.
Ke mana pun aku jalan, mereka akan terus ikutin dan jaga sekeliling, bener2 kayak di film, hahaha...antara keren dan bahaya banget. Di foto ini ada beberapa rekan kerja dari Indonesia, Hongkong dan geologis dari China, serta para bodyguards.





















Tak mau lewatkan kesempatan, aku tertarik foto bersama senjata M16, full automatic machine gun yang konon paling update sekarang, senapannya tidak terlau berat, body guard mengingati untuk "DON'T PULL THE TRIGGER" hahaha...(maaf aku narsis ya)

3rd day: Tetap masih di Pagadian City, nginap di hotel Pagadian Hotel (punya pak Bupati setempat), hotel sih sederhana saja, tapi syukur ada wifi, channel HBO dan Star Movies, channel lain bahasa lokal. Btw kita semua tahu Philipine menggunakan bahasa Tagalog, tapi jika di Philipine Selatan, mereka menggunakan bahasa Visayak, ibaratnya seperti bahasa daerah setempat dan bahasa Tagalog merupakan bahasa Nasionalnya.
Di kota ini aku menemukan sesuatu yang unik, yaitu becak motornya, orang lokal menyebutnya Trisikat, tempat duduknya dibuat nungging, tidak ada yang tahu kenapa dibuat nungging, temanku hanya menjawab "mungkin biar enak saja." wkwkw...dasar mesum.
















4th day: Akhirnya balik ke Metro Manila, kemacetannya luar binasa, tak kalah dengan Jakarta, kotanya juga tidak terlalu metropolitan, mungkin masih kalah berkembang 10-20 tahun dibanding Jakarta, papan iklan besar di mana-mana. Kantor kami berada di Pasic City, pusat kotanya Manila, ibaratnya kayak di Sudirman, nah untuk untuk lokasi kantor terlihat berbeda sekali, sangat modern, rada mirip Singapore, rapi bersih dan teratur, saat nyebrang jalan hati2, bukan karena yang nyetir orang Medan (kutipan dari sebuah blog, bukan aku yg ngomong ya), tapi karena setirnya berada di sebelah kiri (sama dengan di China).
Malamnya aku diajak jalan ama teman lokal (Mr. Bombboy dan Mr. Ogz - org sini suka menggunakan nick name sebagai nama panggilan, jadi hampir tiap orang punya nick name). Kami ke daerah Taguig, daerah yg hidup sekali kehidupan metropolitannya. Aku sempat bertanya kenapa banyak mall berawalan SM, apakah pemiliknya sama? Dan ternyata benar, pemilihnya sama, SM merupakan singkatan dari Shoe Mart, karena pemiliknya berawal dari dagang sepatu, kemudian sukses jadi miliyuner, selain SM ada juga Robinson, kedua mega store tersebut hampir memenuhi tiap sudut Philipine, mulai dari mall, super market dan mini market, itu juga alasannya kalian tidak ada menemukan WalMart dan Carefor di sini, karena sudah tidak ada lokasi strategis lagi, kenapa aku bisa tahu informasi ini? karena kebetulan bos kami kenal CEO nya Robinson.
Aku sempat singgah di Draft, sebuah bar yg terlihat sangat nice and friendly, sambil nikmati cocktail, aku sempat mengamati kenapa saat berbicara suara kita terdengar jelas, tidak layaknya seperti bar yang pernah aku kunjungi di mana kita harus sedikit teriak atau berbisik ke kuping saat berbicara dengan teman, meskipun rame dengan penggunjung dan suara musik, ternyata rahasianya ada di langit-langitnya yg terbuat dari bahan akustik (benar gak penulisannya) serta dinding yang mayoritas dari kayu, material ini menyerap suara-suara agar tidak bergema kembali di ruangan.
Kemudian jalan kaki sebentar, kami pindah ke sebuah bar lainnya, Las Flores - bar dengan gaya Spanyol, pemiliknya juga orang Spanyol, sempat ketemu dan dikenalkan dengan pemiliknya, dengan bekal bahasa Inggris seadanyanya cukuplah untuk pembicaraan sederhana. Nuasan barnya sangat santai dan menyenangkan, walau tidak besar sekali, bar tendernya juga sangat ramah, sambil buat minuman kita diajak ngobrol terus.



















Malam itu aku benar-benar puas minumnya, habis cocktail lanjut beer, jam 2 pagi terbangun aku sudah berada di condominium tempat tinggalku.

5th day: Saatnya balik ke Jakarta, bayar airport tax 550 Peso, atau USD12,7 . Dinas yang cukup menyenangkan, lumayan untuk hilangkan suntuk di Jakarta, hilangkan galau, recharge, tapi sialnya saat di pesawat balik ke Singapore tak sengaja melihat film SAY YES! 101 Proposal...waduh jadi galau lagi deh...

Categories:

0 comments:

Post a Comment